top of page

Hubungan Tekanan Darah dengan Ginjal

Gambar penulis: Dana Pramudya
Dana Pramudya
3 hari yang lalu
6 menit membaca

Banyak orang mengira tekanan darah tinggi hanya urusan jantung dan stroke. Padahal, salah satu organ yang paling awal "protes" saat tekanan darah tidak terkendali adalah ginjal — dan hebatnya, ginjal biasanya diam saja sampai kerusakannya cukup jauh.

Hubungan keduanya bukan satu arah. Tekanan darah tinggi bisa merusak ginjal, dan ginjal yang rusak bisa membuat tekanan darah makin tinggi.[1] Inilah yang membuat kombinasi ini perlu ditanggapi serius sejak awal.

Ada satu angka yang menggambarkan besarnya masalah ini di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan 30,8% penduduk berusia 18 tahun ke atas memiliki tekanan darah tinggi saat diukur, tetapi hanya 8,6% yang mengaku pernah didiagnosis dokter.[2] Artinya, sebagian besar penyandang hipertensi di negeri ini belum tahu bahwa dirinya hipertensi.


Sekilas: apa sebenarnya kerja ginjal?

Bayangkan sepasang penyaring seukuran kepalan tangan di punggung bawah kiri dan kanan. Setiap hari, ginjal menyaring sekitar 180 liter cairan darah, membuang sisa metabolisme dan kelebihan air lewat urine, lalu menyerap kembali zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh.

Selain menyaring, ginjal juga:

  • mengatur kadar garam dan air dalam tubuh,

  • mengatur keseimbangan asam-basa dan mineral (kalium, kalsium, fosfat),

  • memproduksi hormon untuk pembentukan sel darah merah,

  • mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang,

  • dan ikut mengatur tekanan darah.

Poin terakhir itulah yang menjadi inti tulisan ini.


Bagaimana tekanan darah tinggi merusak ginjal

Alat penyaring di ginjal disebut glomerulus, dan jumlahnya sekitar satu juta di tiap ginjal. Bentuknya adalah gulungan pembuluh darah yang sangat halus — jauh lebih tipis dari rambut.

Ketika tekanan darah terus-menerus tinggi, tekanan itu diteruskan sampai ke dalam glomerulus. Lama-kelamaan dinding pembuluh menebal dan mengeras — dokter menyebutnya nefrosklerosis — aliran darah ke jaringan ginjal berkurang, dan satu per satu penyaring berhenti berfungsi lalu digantikan jaringan parut.[1]

Prosesnya perlahan — bertahun-tahun — dan itulah masalahnya. Kerusakan sudah berjalan jauh sebelum keluhan muncul. Tanda paling awal biasanya bukan rasa sakit, melainkan bocornya protein (albumin) ke dalam urine, yang hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan laboratorium.[3]

Di Indonesia, laporan tahunan Indonesian Renal Registry mencatat hipertensi sebagai salah satu penyebab tersering pasien harus memulai cuci darah, berdampingan dengan nefropati diabetik.[4] Keduanya sering hadir bersamaan pada orang yang sama.


Bagaimana ginjal yang bermasalah menaikkan tekanan darah

Ini sisi sebaliknya yang jarang dibahas.

Pertama, soal garam dan air. Ginjal yang sehat membuang kelebihan garam dan air. Ketika fungsinya menurun, garam dan air tertahan di dalam tubuh. Volume darah bertambah, dan tekanan di dalam pembuluh darah naik — persis seperti selang yang dialiri air lebih deras.[1]

Kedua, soal hormon. Ginjal punya sensor tekanan. Bila ginjal merasa aliran darah yang datang kurang, ia melepaskan enzim renin yang memicu rangkaian hormon (sistem renin-angiotensin-aldosteron). Hasil akhirnya: pembuluh darah menyempit dan garam ditahan — tekanan darah naik. Masalahnya, pada ginjal yang sudah rusak sensor ini bisa salah baca, sehingga sistem tersebut aktif terus meski tekanan darah sebenarnya sudah tinggi.[1]

Ketiga, penyempitan pembuluh darah ginjal. Pada sebagian orang, arteri yang menuju ginjal menyempit. Ginjal mengira tubuh sedang kekurangan darah, lalu memerintahkan tekanan dinaikkan. Kondisi ini patut dicurigai bila tekanan darah tiba-tiba sangat tinggi, sulit turun meski sudah minum tiga macam obat, atau muncul di usia sangat muda maupun sangat tua.[5]

Jadi terbentuklah lingkaran: tekanan darah tinggi → ginjal rusak → tekanan darah makin tinggi → ginjal makin rusak. Tujuan pengobatan adalah memutus lingkaran ini sedini mungkin.


Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Sekali lagi: pada tahap awal, biasanya tidak ada gejala sama sekali. Namun beberapa hal berikut layak membuat Anda memeriksakan diri:

  • urine berbusa banyak dan busanya lama hilang (petunjuk adanya protein),

  • bengkak di kelopak mata saat bangun tidur, atau di tungkai dan pergelangan kaki,

  • sering terbangun malam hari untuk buang air kecil,

  • tekanan darah yang sulit dikendalikan meski sudah minum obat,

  • mudah lelah, nafsu makan turun, kulit gatal, mual (ini sudah tahap lanjut),

  • urine berwarna kemerahan atau seperti air cucian daging.

Sakit pinggang bukan tanda khas penyakit ginjal kronik. Nyeri pinggang lebih sering berasal dari otot atau tulang belakang; kalau nyerinya hebat dan menjalar, biasanya itu batu saluran kemih — kondisi yang berbeda.


Siapa yang perlu diperiksa lebih rutin?

  • Penyandang hipertensi, apa pun usianya

  • Penyandang diabetes

  • Usia di atas 60 tahun

  • Ada riwayat penyakit ginjal dalam keluarga

  • Obesitas, perokok

  • Pengguna obat antinyeri (NSAID) jangka panjang, atau konsumen jamu/suplemen tak jelas kandungannya

  • Riwayat bayi lahir dengan berat rendah, atau riwayat preeklamsia pada kehamilan

Panduan internasional menyarankan agar kelompok berisiko seperti ini diperiksa fungsi ginjalnya secara berkala, bukan menunggu keluhan muncul.[3]


Tiga pemeriksaan sederhana yang perlu Anda kenal

  1. Tekanan darah. Diukur dengan benar: duduk tenang lima menit, punggung bersandar, kaki tidak menyilang, lengan disangga setinggi jantung, dan tidak berbicara saat pengukuran. Ukur dua kali dengan jeda satu menit, lalu ambil rata-ratanya. Teknik ini bukan formalitas — pengukuran yang asal-asalan bisa membuat angka meleset cukup jauh dan berujung pada keputusan pengobatan yang keliru.[6]

  2. Kreatinin darah dan eGFR. Kreatinin adalah sisa metabolisme otot yang dibuang ginjal. Dari angkanya, laboratorium menghitung eGFR — perkiraan laju penyaringan ginjal. Nilai di bawah 60 yang menetap lebih dari tiga bulan menandakan penurunan fungsi ginjal.[3]

  3. Albumin urine (rasio albumin-kreatinin urine / UACR). Ini pemeriksaan yang paling sering terlewat, padahal paling peka mendeteksi kerusakan dini. Cukup dari sampel urine biasa. Bila hasilnya meningkat, kerusakan sudah dimulai walaupun eGFR masih normal.[3,7]

Bagi penyandang hipertensi, ketiga pemeriksaan ini idealnya dilakukan minimal setahun sekali.


Berapa target tekanan darah yang aman untuk ginjal?

Secara umum, sasarannya adalah di bawah 130/80 mmHg.[6] Untuk sebagian pasien dengan penyakit ginjal kronik, panduan KDIGO bahkan mengusulkan sasaran tekanan sistolik di bawah 120 mmHg — dengan catatan penting bahwa angka itu berlaku bila tekanan darah diukur memakai teknik standar yang ketat seperti di atas.[8]

Target ini tidak sama untuk semua orang. Pada lansia yang rapuh, pengidap penyakit jantung tertentu, atau mereka yang sering pusing saat berdiri, dokter akan menyesuaikannya. Yang penting: targetnya jelas, disepakati bersama dokter Anda, dan dipantau.


Yang bisa Anda lakukan mulai hari ini

Kurangi garam. Ini langkah tunggal dengan dampak terbesar. WHO menyarankan tidak lebih dari 5 gram garam sehari — kira-kira satu sendok teh, dan itu sudah termasuk garam dalam makanan olahan.[9] Pelaku utamanya sering bukan garam meja, melainkan mi instan, ikan asin, kecap, saus, penyedap, makanan kalengan, dan camilan gurih.

Perbanyak sayur dan buah, kurangi makanan ultraproses. Pola makan tinggi sayur, buah, dan biji-bijian utuh serta rendah daging olahan terbukti menurunkan tekanan darah.[6] Catatan penting: bila fungsi ginjal Anda sudah menurun, jumlah buah tertentu perlu dibatasi karena kandungan kaliumnya — tanyakan pada dokter atau ahli gizi Anda.

Bergerak. Sekitar 150 menit per minggu aktivitas sedang — jalan cepat 30 menit lima kali seminggu sudah memenuhi.[8]

Turunkan berat badan bila berlebih. Penurunan beberapa kilogram saja sudah menurunkan tekanan darah secara nyata.[6]

Berhenti merokok. Merokok mempercepat kerusakan pembuluh darah ginjal, dan efeknya berlipat bila digabung dengan hipertensi.[3]

Hati-hati dengan obat dan jamu. Obat antinyeri golongan NSAID — yang sering dibeli bebas untuk pegal dan nyeri haid — bila dipakai rutin dapat merusak ginjal. Panduan KDIGO secara khusus menekankan kehati-hatian memakai obat pada orang dengan penyakit ginjal.[3] Jamu atau suplemen "penambah stamina" dan "pelangsing" yang tidak jelas kandungannya juga berisiko. Konsultasikan sebelum memakainya jangka panjang.

Punya tensimeter di rumah. Tensimeter digital lengan atas (bukan pergelangan tangan) cukup akurat untuk pemakaian rumah, dan pemantauan mandiri di rumah kini termasuk yang dianjurkan panduan terbaru.[6] Catat hasilnya pagi dan malam, bawa catatan itu saat kontrol.

Minum obat secara teratur. Beberapa jenis obat tekanan darah — terutama golongan ACE inhibitor dan ARB — bukan hanya menurunkan tekanan, tetapi juga secara khusus melindungi ginjal dengan mengurangi kebocoran protein.[8]


Tiga anggapan keliru yang sering saya temui

"Tensi saya sudah normal, berarti obatnya boleh berhenti." Justru sebaliknya: tensi normal itu adalah bukti obatnya bekerja. Menghentikannya membuat tekanan naik kembali, sering tanpa Anda sadari. Perubahan dosis atau penghentian obat harus atas pertimbangan dokter.

"Obat tekanan darah merusak ginjal." Yang merusak ginjal adalah tekanan darah yang tidak terkendali. Pada awal pemakaian ACE inhibitor atau ARB, kreatinin memang bisa naik sedikit dan itu umumnya wajar — dokter akan memantaunya.[8] Manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar.

"Minum air putih sebanyak-banyaknya bisa mencuci ginjal." Ginjal bukan saringan yang bisa dibilas. Minum cukup — mengikuti rasa haus — sudah memadai. Pada gagal ginjal atau gagal jantung, minum berlebihan justru berbahaya karena cairan menumpuk.


Penutup

Tekanan darah dan ginjal adalah pasangan yang saling memengaruhi sepanjang hidup. Kabar baiknya, kerusakan ginjal akibat hipertensi berlangsung perlahan — artinya ada banyak waktu untuk mencegahnya, asalkan kita tahu apa yang harus diperiksa dan tidak menunggu sampai ada keluhan.

Bila Anda punya tekanan darah tinggi, tiga hal ini sudah cukup sebagai langkah awal: ukur tekanan darah secara teratur di rumah, minta pemeriksaan kreatinin dan albumin urine minimal setahun sekali, dan kurangi garam mulai dari dapur sendiri.


Daftar Pustaka

  1. Ku E, Lee BJ, Wei J, Weir MR. Hypertension in CKD: Core Curriculum 2019. Am J Kidney Dis. 2019;74(1):120–31.

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023: hasil utama. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.

  3. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117–314.

  4. Perhimpunan Nefrologi Indonesia. 13th Annual Report of Indonesian Renal Registry 2020. Bandung: PERNEFRI; 2021.

  5. Textor SC. Renal arterial disease and hypertension. Med Clin North Am. 2017;101(1):65–79.

  6. Jones DW, Ferdinand KC, Taler SJ, Johnson HM, Shimbo D, Abdalla M, et al. 2025 AHA/ACC/AANP/AAPA/ABC/ACCP/ACPM/AGS/AMA/ASPC/NMA/PCNA/SGIM guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adults: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Hypertension. 2025;82:e212–316.

  7. Levin A, Ahmed SB, Carrero JJ, Foster B, Francis A, Hall RK, et al. Executive summary of the KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease: known knowns and known unknowns. Kidney Int. 2024;105(4):684–701.

  8. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Blood Pressure Work Group. KDIGO 2021 Clinical Practice Guideline for the Management of Blood Pressure in Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2021;99(3S):S1–87.

  9. World Health Organization. Guideline: sodium intake for adults and children. Geneva: World Health Organization; 2012.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar


bottom of page