top of page

Anemia dan Ginjal: Ketika Kurang Darah Berasal dari Ginjal

Gambar penulis: Dana Pramudya
Dana Pramudya
9 Okt
8 menit membaca

Diperbarui: 19 Okt

Ilustrasi ginjal hijau dengan tiga sel darah merah

Lemas, pucat, cepat lelah, lalu hasil laboratorium menunjukkan hemoglobin (Hb) rendah. Kebanyakan orang langsung menyimpulkan "kurang darah karena kurang zat besi" dan membeli tablet tambah darah. Sering kali itu benar. Namun pada sebagian orang, Hb tidak juga naik meskipun tablet sudah diminum berbulan-bulan.

Salah satu penyebab yang kerap terlewat adalah ginjal. Ginjal bukan hanya penyaring darah. Ginjal juga menghasilkan hormon yang memerintahkan tubuh membuat sel darah merah. Ketika ginjal rusak, produksi darah ikut terganggu.

Artikel ini membahas mengapa gangguan ginjal menyebabkan anemia, seberapa sering hal itu terjadi, apa tandanya, dan bagaimana penanganannya menurut pedoman internasional terbaru.

Catatan penting: artikel ini bersifat edukatif. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing individu.

Ginjal ikut membuat darah

Sel darah merah dibuat di sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari. Agar jumlahnya tetap cukup, sumsum tulang harus terus membuat sel baru. Perintah untuk membuatnya datang dari hormon eritropoietin (EPO), dan hormon ini terutama dihasilkan oleh ginjal (1).

Ginjal bekerja seperti sensor oksigen. Saat oksigen dalam darah turun, misalnya setelah perdarahan, ginjal melepas lebih banyak EPO. Sumsum tulang lalu membuat lebih banyak sel darah merah.

Pada penyakit ginjal, sel-sel penghasil EPO ikut rusak. Tubuh kekurangan darah, tetapi "perintah" untuk membuat darah baru tidak cukup kuat. Inilah inti dari anemia renal, yaitu anemia akibat penyakit ginjal.

Diagram: ginjal sehat menghasilkan cukup EPO sehingga Hb normal; ginjal rusak menghasilkan EPO lebih sedikit sehingga terjadi anemia

Baris atas menunjukkan alur pada ginjal sehat, baris bawah pada ginjal yang rusak. Tiga faktor di kotak bawah ikut memperberat anemia dan dibahas di bagian berikutnya.

Seseorang disebut anemia bila Hb di bawah 13 g/dL pada laki-laki dewasa dan di bawah 12 g/dL pada perempuan dewasa. Batas dari WHO ini dipertahankan dalam pedoman KDIGO 2026 tentang anemia pada penyakit ginjal kronik (PGK) (2, 3).


Mengapa gangguan ginjal menyebabkan anemia

Kekurangan EPO adalah penyebab utama, tetapi bukan satu-satunya. Pada penyakit ginjal kronik, beberapa hal terjadi bersamaan (1, 3):

Mekanisme

Apa yang terjadi

EPO berkurang

Ginjal yang rusak tidak menghasilkan cukup EPO, dan sumsum tulang menjadi kurang peka terhadap EPO yang ada

Zat besi "terkunci"

Peradangan kronik menaikkan hormon hepsidin. Hepsidin menghambat penyerapan zat besi dari usus dan menahan zat besi di tempat penyimpanannya, sehingga tidak bisa dipakai untuk membuat darah

Kehilangan darah

Darah tertinggal di selang dan dialiser saat cuci darah, pengambilan sampel darah berulang, dan perdarahan saluran cerna. Pasien hemodialisis diperkirakan kehilangan 1–3 gram zat besi per tahun

Umur sel darah merah memendek

Sel darah merah rusak lebih cepat dari seharusnya

Kekurangan nutrisi dan gangguan lain

Kurang asam folat atau vitamin B12, kelenjar paratiroid yang terlalu aktif, gangguan tiroid, dan obat tertentu


Karena itu, anemia pada penyakit ginjal sering memiliki lebih dari satu penyebab sekaligus. Cadangan zat besi seseorang bisa tampak cukup, tetapi tubuhnya tidak dapat memakainya. Inilah sebabnya tablet zat besi saja sering tidak cukup.


Seberapa sering terjadi

Semakin berat penyakit ginjalnya, semakin sering anemia ditemukan. Survei kesehatan nasional Amerika Serikat (NHANES 2007–2010) menemukan anemia pada 15,4% penderita PGK, dua kali lipat populasi umum (7,6%). Angkanya naik dari 8,4% pada stadium 1 menjadi 53,4% pada stadium 5 (4). Pedoman KDIGO 2026 juga menyebut lebih dari separuh penderita PGK stadium 4 dan 5 mengalami anemia (3).

Di Indonesia, gambarannya lebih berat pada pasien cuci darah. Laporan Indonesian Renal Registry 2020 memuat data Hb dari 136.459 pasien hemodialisis. Hanya 19% yang memiliki Hb 10 g/dL atau lebih; 81% sisanya berada di bawah angka itu. Di antara 5.766 pasien yang diperiksa saturasi transferinnya, 55% berada di bawah 20%, tanda zat besi yang tersedia untuk membuat darah tidak mencukupi (5).

Ada dua catatan untuk membaca angka Indonesia ini. Data laboratorium belum wajib dilaporkan ke registri, sehingga tidak semua unit hemodialisis mengirimkannya. Selain itu, angka tersebut menggambarkan keadaan tahun 2020.


Apakah anemia juga memperburuk ginjal dan jantung?

Hubungan keduanya tidak hanya satu arah. Saat darah kekurangan Hb, jantung harus bekerja lebih keras untuk mengantar oksigen yang sama. Dalam berbagai penelitian, anemia pada penderita PGK berkaitan dengan angka kematian yang lebih tinggi, gagal jantung, penebalan otot jantung, penurunan fungsi ginjal yang lebih cepat, gangguan daya pikir, rawat inap yang lebih sering, dan kualitas hidup yang lebih rendah (3).

Namun berkaitan belum tentu berarti menyebabkan. Anemia yang berat bisa jadi hanya penanda bahwa penyakit ginjalnya memang lebih parah. Uji klinis besar menunjukkan bahwa menaikkan Hb sampai normal dengan obat tidak memperlambat kerusakan ginjal dan tidak menurunkan angka kematian. Hal ini dibahas di bagian target Hb di bawah.

Ada pula keadaan yang menyebabkan anemia dan gangguan ginjal sekaligus. Dokter akan memikirkannya bila keduanya muncul bersamaan:

  • Lupus, penyakit autoimun yang dapat menyerang sel darah dan ginjal

  • Mieloma multipel, kanker sel plasma yang umumnya muncul pada usia lanjut, dengan anemia, nyeri tulang, dan fungsi ginjal menurun

  • Perdarahan berat, yang menurunkan Hb dan mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga dapat memicu gangguan ginjal akut

  • Obat antinyeri golongan NSAID dalam jangka panjang, yang dapat melukai lambung hingga berdarah dan sekaligus membebani ginjal


Gejala dan kapan patut mencurigai ginjal

Anemia akibat penyakit ginjal berkembang perlahan, sehingga tubuh sempat menyesuaikan diri. Keluhannya sering dianggap wajar:

  • Lelah yang tidak hilang dengan tidur

  • Cepat terengah saat beraktivitas ringan

  • Pusing, sakit kepala, dan sulit berkonsentrasi

  • Pucat dan jantung berdebar

  • Nafsu makan menurun dan suasana hati murung

Keluhan ini mirip dengan keluhan penyakit ginjal itu sendiri. Akibatnya keduanya mudah tertukar dan penanganan anemia tertunda.

Curigai ginjal sebagai penyebab bila anemia:

  • Tidak membaik setelah tablet zat besi diminum dengan benar

  • Muncul tanpa sebab yang jelas, terutama pada laki-laki dewasa atau perempuan yang sudah menopause

  • Disertai tekanan darah tinggi, diabetes, bengkak di kaki atau kelopak mata, atau urin berbuih

  • Disertai sering buang air kecil pada malam hari, mual, atau gatal yang menetap

  • Terjadi pada orang dengan riwayat keluarga penyakit ginjal

Dalam keadaan ini, dua pemeriksaan sederhana sudah banyak membantu: kreatinin darah untuk menghitung eGFR dan pemeriksaan urin, termasuk rasio albumin-kreatinin urin (UACR).


Pemeriksaan yang diperlukan

Pada penderita PGK dengan anemia, pedoman KDIGO 2026 menganjurkan empat pemeriksaan awal (3):

Pemeriksaan

Yang dinilai

Darah lengkap

Kadar Hb serta jumlah dan ukuran sel darah

Retikulosit

Sel darah merah muda, penanda seberapa aktif sumsum tulang membuat darah

Feritin

Cadangan zat besi tubuh

Saturasi transferin (TSAT)

Zat besi yang sedang beredar dan siap dipakai


Bila hasilnya belum menjelaskan penyebab anemia, dokter dapat menambah pemeriksaan lain. Contohnya vitamin B12, asam folat, penanda peradangan (CRP), hormon tiroid, dan darah samar pada tinja. Kekurangan zat besi yang berat atau tanpa sebab jelas perlu dicari sumber perdarahannya, misalnya dari saluran cerna atau haid yang berlebihan.

Seberapa sering Hb diperiksa bergantung pada stadium PGK (3):

  • Stadium 3: setidaknya setahun sekali

  • Stadium 4: dua kali setahun

  • Stadium 5 dan pasien dialisis: setiap 3 bulan


Pengobatan: bertahap, bukan sekadar menaikkan angka

Pengobatan dimulai dengan mencari dan memperbaiki penyebab yang bisa diatasi, terutama kekurangan zat besi. Sebagian pasien tidak lagi memerlukan obat perangsang darah setelah zat besinya tercukupi. Berikut tahapannya menurut pedoman KDIGO 2026 (2, 3):

Terapi

Kapan dipakai

Yang perlu diketahui

Zat besi

Langkah pertama bila cadangan atau ketersediaan zat besi kurang

Pasien hemodialisis dianjurkan mendapat zat besi lewat infus. Pasien yang belum dialisis dapat memakai tablet atau infus. Bila tablet tidak berhasil dalam 1–3 bulan atau tidak tertahankan, beralih ke infus. Zat besi ditunda sementara saat ada infeksi yang sedang aktif

ESA (suntikan eritropoietin dan sejenisnya)

Bila Hb tetap rendah setelah zat besi tercukupi. Pada pasien dialisis umumnya dimulai saat Hb 9–10 g/dL atau kurang. Pada yang belum dialisis diputuskan per orang, umumnya pada Hb 8,5–10 g/dL

Mengurangi lelah dan kebutuhan transfusi. Hb dijaga tidak melebihi 11,5 g/dL. Perlu kehati-hatian pada riwayat stroke, penggumpalan darah, atau kanker

HIF-PHI (obat minum, misalnya roksadustat)

Alternatif bila ESA tidak dapat ditoleransi, kurang berhasil, atau suntikan tidak memungkinkan

Data keamanan jangka panjangnya masih terbatas. Tidak digabung dengan ESA. Dihindari pada kanker aktif, pada kejadian jantung atau sumbatan pembuluh darah yang baru terjadi, dan pada kehamilan. Ketersediaannya berbeda di tiap negara

Transfusi darah

Keadaan gawat seperti perdarahan hebat, atau bila terapi lain tidak berhasil maupun tidak aman

Diputuskan terutama berdasarkan keluhan dan kondisi pasien, bukan angka Hb saja


Transfusi perlu dibatasi terutama pada calon penerima transplantasi ginjal. Darah donor dapat memicu tubuh membentuk antibodi terhadap jaringan orang lain. Antibodi ini mempersempit pilihan donor ginjal yang cocok di kemudian hari (3).

Di Indonesia, laporan Indonesian Renal Registry 2020 mencatat transfusi masih cukup sering diberikan kepada pasien hemodialisis (5). Bila Anda menjalani cuci darah dan berharap menjalani transplantasi, bicarakan pilihan terapi anemia dengan dokter sejak awal.


Mengapa targetnya bukan Hb "normal"?

Pasien sering bertanya mengapa Hb-nya hanya dijaga di kisaran 10–11,5 g/dL, padahal nilai normal lebih tinggi. Jawabannya datang dari uji klinis.

Uji klinis TREAT melibatkan 4.038 penderita diabetes, PGK, dan anemia yang belum menjalani dialisis. Sekitar separuhnya mendapat ESA darbepoetin dengan target Hb sekitar 13 g/dL. Sisanya mendapat plasebo, dan darbepoetin hanya diberikan bila Hb turun di bawah 9 g/dL. Hasilnya (6):

  • Kematian atau kejadian jantung dan pembuluh darah tidak berkurang

  • Kematian atau gagal ginjal tahap akhir tidak berkurang

  • Stroke hampir dua kali lebih sering pada kelompok target Hb tinggi: 101 berbanding 53 pasien

  • Transfusi lebih jarang pada kelompok target Hb tinggi: 297 berbanding 496 pasien

Karena itu KDIGO 2026 merekomendasikan Hb pada pengguna ESA dijaga tidak melebihi 11,5 g/dL, umumnya di kisaran 10–11,5 g/dL (3). Tujuan pengobatan adalah mengurangi keluhan dan menghindari transfusi, bukan mengejar angka normal.


Yang bisa Anda lakukan

  • Periksa Hb secara berkala bila Anda memiliki penyakit ginjal, diabetes, atau hipertensi. Simpan hasilnya agar bisa dibandingkan dari waktu ke waktu.

  • Jangan mengobati sendiri anemia yang tidak jelas sebabnya dengan suplemen zat besi selama berbulan-bulan tanpa pemeriksaan.

  • Minum zat besi sesuai petunjuk. Tanyakan cara dan waktu minumnya kepada dokter atau apoteker, karena beberapa obat dapat mengurangi penyerapannya.

  • Datang sesuai jadwal suntikan ESA atau infus zat besi, dan jangan menghentikannya sendiri saat merasa lebih baik.

  • Laporkan tanda perdarahan, seperti tinja berwarna hitam, muntah berdarah, atau haid yang sangat banyak.

  • Hindari obat antinyeri NSAID dan jamu tanpa izin edar, yang dapat memicu perdarahan lambung dan membebani ginjal.

  • Atur makan bersama dokter atau ahli gizi. Pada PGK, sumber zat besi dan protein perlu disesuaikan dengan kadar kalium dan fosfat Anda.

  • Sampaikan rencana transplantasi kepada tim dokter, agar transfusi dapat dihindari sedapat mungkin.


Mitos yang sering dipercaya

"Anemia pasti karena kurang zat besi."

Kekurangan zat besi memang penyebab anemia yang paling sering, tetapi bukan satu-satunya. Pada penyakit ginjal, kekurangan EPO dan zat besi yang "terkunci" berperan besar.

"Cukup makan bayam, hati, atau buah bit, Hb akan naik."

Makanan bergizi tetap penting, tetapi tidak dapat menggantikan hormon EPO yang tidak lagi dihasilkan ginjal. Sebagian makanan itu juga tinggi kalium atau fosfat, yang perlu dibatasi pada PGK lanjut.

"Transfusi adalah cara tercepat dan terbaik."

Transfusi menyelamatkan nyawa pada keadaan gawat. Untuk anemia kronik akibat penyakit ginjal, transfusi berulang membawa risiko, termasuk terbentuknya antibodi yang menyulitkan transplantasi.

"Semakin tinggi Hb, semakin baik."

Menaikkan Hb sampai normal dengan ESA terbukti meningkatkan risiko stroke. Kisaran yang dituju umumnya 10–11,5 g/dL.

"Kalau sudah cuci darah, anemia akan hilang sendiri."

Dialisis membuang racun dan cairan, tetapi tidak menggantikan peran ginjal menghasilkan EPO. Hemodialisis justru menambah kehilangan darah dan zat besi.


Kapan harus segera ke dokter atau IGD

Segera ke IGD bila anemia disertai:

  • Sesak napas berat atau nyeri dada

  • Pingsan atau hampir pingsan

  • Jantung berdebar hebat saat beristirahat

  • Tinja hitam seperti aspal, muntah darah, atau perdarahan yang tidak berhenti

Periksakan diri ke dokter dalam waktu dekat bila Anda lemas dan pucat tanpa sebab yang jelas, terutama bila memiliki diabetes, hipertensi, atau riwayat penyakit ginjal.


Penutup

Anemia dan gangguan ginjal saling terkait erat. Ginjal yang rusak kekurangan EPO, mengunci zat besi, dan kehilangan darah, sehingga Hb turun seiring memburuknya fungsi ginjal. Sebaliknya, anemia yang tidak jelas sebabnya bisa menjadi petunjuk pertama adanya penyakit ginjal.

Anemia ini dapat ditangani. Kuncinya adalah menemukan penyebabnya, mencukupi zat besi, memakai obat perangsang darah seperlunya, dan menjaga Hb pada kisaran yang aman.

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus dilakukan oleh dokter.


Daftar pustaka

  1. Babitt JL, Lin HY. Mechanisms of anemia in CKD. J Am Soc Nephrol. 2012;23(10):1631–4. doi:10.1681/ASN.2011111078

  2. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Anemia Work Group. KDIGO 2026 clinical practice guideline for the management of anemia in chronic kidney disease (CKD). Kidney Int. 2026;109(1S):S1–99. doi:10.1016/j.kint.2025.06.006

  3. Babitt JL, Berns JS, Bozkurt B, Cheung Khedairy RS, Cuevas Y, Effa EE, et al. Executive summary of the KDIGO 2026 clinical practice guideline for the management of anemia in chronic kidney disease (CKD). Kidney Int. 2026;109(1):44–56. doi:10.1016/j.kint.2025.06.005

  4. Stauffer ME, Fan T. Prevalence of anemia in chronic kidney disease in the United States. PLoS One. 2014;9(1):e84943. doi:10.1371/journal.pone.0084943

  5. Indonesian Renal Registry. 13th annual report of Indonesian Renal Registry 2020 [Internet]. Bandung: Perkumpulan Nefrologi Indonesia; 2023 [cited 2026 Oct 8]. Available from: indonesianrenalregistry.org/media/laporan IRR 2020.pdf

  6. Pfeffer MA, Burdmann EA, Chen CY, Cooper ME, de Zeeuw D, Eckardt KU, et al. A trial of darbepoetin alfa in type 2 diabetes and chronic kidney disease. N Engl J Med. 2009;361(21):2019–32. doi:10.1056/NEJMoa0907845

Komentar


bottom of page