top of page

Penyebab Gagal Ginjal di Usia Muda: Dari Penyakit Bawaan hingga Gaya Hidup

Gambar penulis: Dana Pramudya
Dana Pramudya
26 Sep
26 menit membaca

Diperbarui: 23 Okt

Bayangan kebanyakan orang tentang pasien cuci darah adalah orang tua yang sudah bertahun-tahun mengidap diabetes atau darah tinggi. Kenyataannya, di ruang hemodialisis kini tidak sulit menemukan pasien berusia 20-an dan 30-an. Seorang mahasiswi yang baru tahu dirinya mengidap lupus ketika kakinya bengkak dan urinnya berbuih. Seorang karyawan muda yang tensinya 180/110 mmHg saat pemeriksaan kesehatan kantor, lalu mendapati kedua ginjalnya sudah mengecil. Seorang pemuda yang ayahnya dulu juga cuci darah "karena ginjalnya berkista".


Pergeseran ini juga dirasakan di tingkat nasional. Pada Juni 2026, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan bahwa pasien penyakit ginjal kronik kini makin muda, dengan banyak kasus di usia 30-an, padahal sepuluh tahun lalu sebagian besar berusia di atas 50 tahun. Laporan Indonesian Renal Registry 2020 mencatat sekitar 1 dari 5 pasien baru hemodialisis berusia di bawah 45 tahun. Bebannya pun besar: BPJS Kesehatan mengeluarkan sekitar Rp13 triliun untuk gagal ginjal pada 2025, terbesar kedua setelah penyakit jantung. Secara global, studi Global Burden of Disease 2023 memperkirakan sekitar 788 juta orang dewasa hidup dengan penyakit ginjal kronik, dan penyakit ini kini menjadi penyebab kematian ke-9 di dunia.


Yang sering tidak disadari, penyebab gagal ginjal pada usia muda berbeda dari usia lanjut. Pada orang tua, penyebab utamanya adalah diabetes dan hipertensi yang berlangsung puluhan tahun. Pada orang muda, porsi yang jauh lebih besar berasal dari radang saringan ginjal, penyakit autoimun, dan penyakit bawaan atau genetik, meskipun diabetes, obesitas, dan hipertensi di usia muda kini ikut menyusul. Banyak di antara penyebab ini dapat diobati atau diperlambat, asalkan ditemukan cukup dini.


Artikel ini membahas apa saja penyebab gagal ginjal di usia muda, tanda-tanda awal yang sering diabaikan, siapa yang perlu memeriksakan diri, dan langkah pencegahannya.

Catatan penting: artikel ini bersifat edukatif. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus dilakukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing individu.

Daftar Isi

  1. Apa yang dimaksud gagal ginjal, dan siapa yang disebut "usia muda"?

  2. Mengapa penyebabnya berbeda dari usia lanjut

  3. Tabel ringkas penyebab gagal ginjal di usia muda

  4. Radang saringan ginjal (glomerulonefritis)

  5. Lupus dan penyakit autoimun lain

  6. Penyakit ginjal bawaan dan genetik

  7. Diabetes di usia muda

  8. Hipertensi di usia muda

  9. Obesitas, minuman manis, garam, dan rokok

  10. Obat, jamu, suplemen, dan steroid anabolik

  11. Batu, sumbatan, dan infeksi saluran kemih berulang

  12. Gangguan ginjal akut yang meninggalkan bekas

  13. Panas, dehidrasi berulang, dan kerja fisik berat

  14. Faktor sejak lahir dan kehamilan

  15. Ketika penyebabnya tidak diketahui

  16. Mengapa sering terlambat diketahui

  17. Tanda yang perlu diwaspadai

  18. Pemeriksaan untuk deteksi dini dan siapa yang perlu

  19. Bila penyakit ginjal sudah ditemukan

  20. Mitos yang masih sering dipercaya

  21. Langkah pencegahan

  22. Pertanyaan yang sering diajukan


Apa yang dimaksud gagal ginjal, dan siapa yang disebut "usia muda"?

Dalam percakapan sehari-hari, "gagal ginjal" biasanya berarti ginjal yang sudah tidak mampu lagi bekerja sehingga pasien memerlukan cuci darah (dialisis) atau transplantasi ginjal. Dalam istilah medis, keadaan ini adalah tahap akhir dari penyakit ginjal kronik (PGK), yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan.

PGK dibagi menjadi beberapa stadium berdasarkan laju filtrasi ginjal (eGFR) dan jumlah albumin yang bocor ke urin:

Stadium

eGFR (mL/menit/1,73 m²)

Keterangan

G1

≥ 90

Fungsi penyaringan normal, tetapi ada tanda kerusakan ginjal (misalnya albumin atau darah di urin, atau kelainan pada USG)

G2

60–89

Penurunan ringan

G3a

45–59

Penurunan ringan hingga sedang

G3b

30–44

Penurunan sedang hingga berat

G4

15–29

Penurunan berat

G5

< 15

Gagal ginjal; dialisis atau transplantasi mulai dipertimbangkan

Kebocoran albumin diukur dengan rasio albumin-kreatinin urin (UACR): < 30 mg/g tergolong normal atau sedikit meningkat, 30–300 mg/g meningkat sedang, dan > 300 mg/g meningkat berat.

Hitung eGFR Anda: masukkan kadar kreatinin dari hasil lab ke Kalkulator eGFR & Stadium Ginjal untuk mengetahui stadium G1–G5 dan, bila UACR juga diisi, posisi Anda pada peta risiko KDIGO.

Dalam artikel ini, "usia muda" merujuk pada remaja akhir hingga sekitar usia 40-an. Satu hal penting perlu diingat: PGK umumnya berjalan bertahun-tahun sebelum mencapai stadium akhir. Seseorang yang mulai cuci darah di usia 25 tahun sangat mungkin sudah memiliki penyakit ginjal sejak remaja, bahkan sejak kanak-kanak, tanpa pernah terdeteksi.


Mengapa penyebabnya berbeda dari usia lanjut

Data registri dari berbagai negara menunjukkan pola yang konsisten. Analisis Registri Ginjal Inggris (UK Renal Registry) terhadap 3.370 pasien berusia 11–30 tahun yang memulai terapi pengganti ginjal menemukan glomerulonefritis (radang saringan ginjal) sebagai kelompok penyebab terbesar, sekitar 29%. Semakin muda usianya, semakin besar porsi penyakit bawaan dan kelainan saluran kemih. Semakin mendekati usia 30, porsi diabetes meningkat: pada kelompok 26–30 tahun, 17,4% gagal ginjal disebabkan diabetes. Tinjauan registri internasional juga memperkirakan setidaknya 20% pasien PGK di bawah usia 25 tahun memiliki penyakit ginjal yang diturunkan.


Usia lanjut

Usia muda

Penyebab utama

Diabetes tipe 2 dan hipertensi yang berlangsung puluhan tahun, pengerasan pembuluh darah

Radang saringan ginjal, lupus, penyakit bawaan dan genetik, kelainan saluran kemih sejak kecil, diabetes (tipe 1 dan tipe 2 yang muncul di usia muda)

Peran hipertensi

Sering menjadi penyebab

Sering menjadi tanda adanya penyakit ginjal lain yang mendasari

Riwayat keluarga

Kadang relevan

Lebih sering bermakna, terutama pada penyakit genetik

Peluang pengobatan spesifik

Umumnya berfokus pada kendali gula darah, tekanan darah, dan pelindung ginjal

Banyak penyebab memiliki pengobatan spesifik, misalnya obat penekan kekebalan, bila ditemukan sebelum ginjal terlanjur rusak

Data Indonesia yang terperinci berdasarkan usia masih terbatas. Laporan Indonesian Renal Registry 2020 untuk semua usia mencatat penyakit ginjal hipertensi (35%) dan nefropati diabetik (29%) sebagai penyebab terbanyak, disusul penyebab yang tidak diketahui (16%) dan glomerulopati primer (8%). Seperti dibahas di artikel Dampak Hipertensi yang Tidak Terkendali, angka ini perlu dibaca hati-hati: banyak pasien datang terlambat dengan ginjal yang sudah mengecil dan tekanan darah tinggi, sehingga "hipertensi" tercatat sebagai penyebab padahal penyakit dasarnya bisa berbeda.


Tabel ringkas penyebab gagal ginjal di usia muda

Kelompok

Contoh

Petunjuk yang sering ditemukan

Dapat dicegah atau diobati?

Radang saringan ginjal

Nefropati IgA, sindrom nefrotik (FSGS, minimal change, membranosa), glomerulonefritis pascainfeksi, radang ginjal terkait hepatitis B, hepatitis C, atau HIV

Urin berbuih, urin merah atau seperti teh, bengkak, tensi tinggi

Banyak yang dapat diobati, terutama bila ditemukan dini

Lupus dan autoimun

Nefritis lupus, vaskulitis, penyakit anti-GBM

Nyeri sendi, ruam, rambut rontok, sariawan, demam, anemia, disertai kelainan urin

Dapat dikendalikan dengan obat penekan kekebalan

Bawaan dan genetik

Ginjal polikistik (ADPKD), sindrom Alport, kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih (CAKUT), refluks urin

Riwayat keluarga, kista pada USG, gangguan pendengaran, infeksi saluran kemih berulang sejak kecil

Tidak dapat dicegah, tetapi perburukannya dapat diperlambat; keluarga dapat diperiksa

Diabetes

Diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 yang muncul di usia muda

Gula darah tinggi, albumin di urin

Sangat dapat dicegah dan diperlambat

Hipertensi

Hipertensi di usia muda, hipertensi akibat penyakit lain

Tensi tinggi tanpa keluhan

Dapat dikendalikan

Gaya hidup

Obesitas, minuman manis, garam berlebih, merokok

Berat badan berlebih, lingkar perut besar

Dapat dicegah

Obat dan zat

Obat antinyeri NSAID jangka panjang, jamu dengan bahan kimia obat, steroid anabolik

Riwayat pemakaian

Dapat dicegah

Saluran kemih

Batu berulang, sumbatan, kandung kemih neurogenik, infeksi berulang

Nyeri pinggang, kencing batu, infeksi berulang

Sebagian besar dapat dicegah atau diatasi

Riwayat gangguan ginjal akut

Leptospirosis, dehidrasi berat, sepsis, kerusakan otot

Riwayat rawat inap dengan kreatinin tinggi

Sebagian dapat dicegah; perlu kontrol lanjutan

Panas dan kerja fisik berat

Penyakit ginjal pada pekerja lapangan di iklim panas

Pekerjaan di bawah terik matahari, sering dehidrasi

Dapat dicegah dengan air, istirahat, dan tempat teduh

Sejak lahir dan kehamilan

Lahir prematur atau berat lahir rendah, preeklampsia

Riwayat kelahiran atau kehamilan

Tidak dapat diubah, tetapi dapat dipantau

1. Radang saringan ginjal (glomerulonefritis)

Setiap ginjal memiliki sekitar satu juta unit penyaring yang disebut glomerulus. Bila glomerulus meradang, saringan menjadi "bocor": protein dan sel darah merah yang seharusnya tetap di dalam darah ikut keluar ke urin. Bila peradangan terus berlangsung, glomerulus berubah menjadi jaringan parut dan tidak dapat berfungsi lagi.

Glomerulonefritis adalah kelompok penyebab terbesar gagal ginjal pada dewasa muda. Beberapa jenis yang perlu dikenal:

Nefropati IgA

Nefropati IgA adalah jenis radang saringan ginjal primer yang paling sering di dunia dan banyak ditemukan di Asia. Penyakit ini terjadi ketika antibodi jenis IgA yang abnormal mengendap di glomerulus. Umumnya muncul pada usia remaja hingga 30-an.

Tanda yang khas adalah urin berwarna merah atau seperti teh yang muncul 1–3 hari setelah flu atau radang tenggorokan. Namun lebih sering, penyakit ini tidak bergejala dan hanya terdeteksi sebagai darah samar atau protein di urin saat pemeriksaan kesehatan rutin, misalnya untuk melamar kerja.

Dulu nefropati IgA sering dianggap penyakit yang "jinak". Data terbaru mengoreksi anggapan itu. Studi registri RaDaR di Inggris (2023) terhadap 2.439 pasien menemukan bahwa separuh pasien mencapai gagal ginjal atau meninggal selama masa pengamatan, dan hanya sedikit yang diperkirakan dapat terhindar dari gagal ginjal sepanjang hidupnya. Bahkan pasien dengan kebocoran protein yang dulu dianggap "ringan" (< 1 gram per hari) tetap berisiko.

Kabar baiknya, pengobatan nefropati IgA berkembang pesat. Sejumlah obat baru telah disetujui di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir, dan panduan KDIGO 2025 kini menetapkan target yang lebih ketat: kebocoran protein < 0,5 gram per hari, idealnya < 0,3 gram per hari. Kuncinya tetap sama: penyakit harus ditemukan sebelum banyak glomerulus berubah menjadi jaringan parut.

Sindrom nefrotik

Sindrom nefrotik adalah keadaan ketika protein bocor dalam jumlah sangat besar. Tandanya urin sangat berbuih, bengkak yang bisa mengenai kelopak mata, tungkai, hingga seluruh tubuh, kadar albumin darah rendah, dan kolesterol tinggi. Penyebabnya antara lain:

  • FSGS (focal segmental glomerulosclerosis), yang dapat bersifat primer, diturunkan secara genetik, atau dipicu oleh hal lain seperti obesitas, infeksi virus, dan steroid anabolik

  • Minimal change disease, yang lebih sering pada anak tetapi juga terjadi pada dewasa muda, dan umumnya responsif terhadap pengobatan

  • Nefropati membranosa, yang pada sebagian kasus berkaitan dengan infeksi hepatitis B atau lupus

Glomerulonefritis pascainfeksi dan infeksi kronik

Glomerulonefritis pascastreptokokus muncul 1–3 minggu setelah radang tenggorokan atau 3–6 minggu setelah infeksi kulit. Jenis ini lebih sering pada anak dan umumnya pulih. Perbedaan waktu ini membantu dokter membedakannya dari nefropati IgA, yang urin merahnya muncul hanya 1–3 hari setelah infeksi.

Infeksi kronik seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV juga dapat memicu radang saringan ginjal. Karena itu, pemeriksaan penyakit-penyakit ini termasuk dalam evaluasi awal penyakit glomerulus.

Mengapa biopsi ginjal sering diperlukan

Keluhan berbagai jenis glomerulonefritis bisa sangat mirip, tetapi pengobatannya berbeda. Untuk memastikan jenisnya, dokter spesialis ginjal sering melakukan biopsi ginjal, yaitu pengambilan sedikit jaringan ginjal dengan jarum untuk diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi paling bermanfaat bila dilakukan saat ginjal belum mengecil. Pada ginjal yang sudah penuh jaringan parut, biopsi sering tidak lagi dapat menunjukkan penyebab awalnya.


2. Lupus dan penyakit autoimun lain

Nefritis lupus

Lupus eritematosus sistemik (lupus) adalah penyakit autoimun ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Sekitar 9 dari 10 penderitanya adalah perempuan, umumnya berusia 15–45 tahun. Keterlibatan ginjal, yang disebut nefritis lupus, dialami oleh 25–60% penderita lupus, biasanya dalam 5 tahun pertama setelah diagnosis. Pada sebagian pasien, kelainan ginjal justru menjadi tanda pertama yang membuat lupus terdiagnosis.

Nefritis lupus adalah penyakit serius. Meta-analisis terhadap studi selama lebih dari empat dekade (Tektonidou dkk., 2016) memperkirakan risiko gagal ginjal dalam 15 tahun sekitar 22%, dan pada nefritis lupus kelas IV (salah satu bentuk terberat) mencapai 44% pada data tahun 2000-an.

Curigai lupus bila kelainan urin disertai keluhan lain seperti:

  • Nyeri atau bengkak pada beberapa sendi

  • Ruam kemerahan di pipi dan hidung yang dipicu sinar matahari

  • Rambut rontok berlebihan

  • Sariawan berulang yang tidak nyeri

  • Demam berkepanjangan tanpa sebab jelas

  • Anemia, penurunan leukosit, atau penurunan trombosit

  • Jari tangan pucat atau kebiruan saat dingin

Pengobatan nefritis lupus kini jauh lebih baik, dengan kombinasi obat penekan kekebalan, hidroksiklorokuin, dan obat pelindung ginjal sesuai panduan KDIGO 2024. Namun hasilnya sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan kepatuhan berobat jangka panjang. Kekambuhan yang berulang adalah salah satu faktor terkuat yang mendorong perburukan menuju gagal ginjal.

Penyakit autoimun lain

Penyakit yang lebih jarang, seperti vaskulitis ANCA dan penyakit anti-GBM, dapat merusak ginjal dalam hitungan hari hingga minggu, kadang disertai batuk darah. Keduanya adalah kegawatdaruratan ginjal yang memerlukan penanganan segera.


3. Penyakit ginjal bawaan dan genetik

Penyakit ginjal genetik jauh lebih sering daripada yang dulu diperkirakan. Diperkirakan penyakit ginjal yang diturunkan menyumbang 10–15% pasien dewasa yang menjalani terapi pengganti ginjal. Studi di New England Journal of Medicine (Groopman dkk., 2019) terhadap 3.315 pasien PGK menemukan penyebab genetik pada 9,3%, dan pada kelompok yang penyebab penyakit ginjalnya tidak diketahui, angkanya mencapai 17,1%. Pada keluarga dengan lebih dari satu penderita atau dengan kelainan di luar ginjal, penyebab genetik ditemukan pada lebih dari sepertiganya (37%).

Ginjal polikistik dominan autosomal (ADPKD)

ADPKD adalah penyakit ginjal genetik yang paling sering, diperkirakan dimiliki sekitar 1 dari 1.000 orang, dan menjadi penyebab terapi pengganti ginjal keempat tersering di dunia. Pada penyakit ini, kedua ginjal dipenuhi kista berisi cairan yang terus bertambah banyak dan besar, sehingga jaringan ginjal yang sehat tergerus.

Penyakit ini diturunkan secara dominan: setiap anak dari orang tua penderita memiliki peluang 50% untuk mewarisinya. Keluhannya sering mulai muncul pada usia 20–40-an:

  • Hipertensi di usia muda, sering sebagai tanda pertama

  • Urin berdarah, nyeri pinggang atau perut, dan perut yang membesar

  • Batu ginjal dan infeksi kista

  • Kista di hati

  • Pada sebagian kecil pasien, pelebaran pembuluh darah otak (aneurisma), terutama bila ada riwayat keluarga perdarahan otak

Panduan KDIGO 2025 untuk ADPKD menganjurkan, antara lain, target tekanan darah yang lebih ketat pada pasien usia 18–49 tahun dengan fungsi ginjal masih baik (≤ 110/75 mmHg diukur di rumah, bila dapat ditoleransi), minum air setidaknya 2–3 liter per hari bila tidak ada kontraindikasi, membatasi garam, dan obat khusus (tolvaptan) bagi pasien yang penyakitnya diperkirakan memburuk cepat. Anggota keluarga penderita dianjurkan mendapat konseling dan pemeriksaan, umumnya dengan USG ginjal.

Sindrom Alport

Sindrom Alport disebabkan kelainan kolagen tipe IV, protein penyusun saringan ginjal, telinga bagian dalam, dan mata. Tanda khasnya adalah darah samar di urin sejak kanak-kanak, lalu kebocoran protein yang bertambah seiring usia, disertai gangguan pendengaran dan kadang kelainan mata. Pada laki-laki dengan bentuk yang diturunkan lewat kromosom X, gagal ginjal sering terjadi sebelum usia 40 tahun. Perempuan pembawa dan penderita bentuk lain umumnya mengalami gejala yang lebih ringan dan bervariasi. Pengobatan dini dengan obat golongan ACE inhibitor atau ARB dapat menunda gagal ginjal.

Kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih (CAKUT) dan refluks

CAKUT (congenital anomalies of the kidney and urinary tract) adalah kumpulan kelainan bawaan seperti ginjal yang kecil atau tidak berkembang sempurna, penyempitan atau sumbatan saluran kemih, dan refluks vesikoureter, yaitu aliran balik urin dari kandung kemih ke ginjal yang memudahkan infeksi dan meninggalkan jaringan parut. CAKUT adalah penyebab tersering PGK pada anak.

Sebagian penderitanya baru terdeteksi saat dewasa muda, misalnya ketika tekanan darahnya tinggi, ditemukan protein di urin, atau saat pemeriksaan kehamilan. Karena itu, riwayat infeksi saluran kemih berulang atau demam tanpa sebab jelas di masa kecil perlu disampaikan kepada dokter.

Pengalaman di layanan anak Indonesia sejalan dengan ini. Saat ramai pemberitaan tentang anak-anak yang menjalani cuci darah pada 2024, dokter nefrologi anak di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung menjelaskan bahwa penyebab utama gagal ginjal pada pasien anak mereka adalah kelainan bawaan struktur ginjal dan penyakit glomerulus.

Mengapa diagnosis genetik penting

Panduan KDIGO 2024 untuk PGK menekankan pentingnya mencari penyebab penyakit ginjal, termasuk kemungkinan penyebab genetik. Diagnosis yang tepat membantu:

  • Memilih pengobatan yang sesuai dan menghindari pengobatan yang tidak perlu, misalnya obat penekan kekebalan pada penyakit yang bukan autoimun

  • Memeriksa anggota keluarga lain yang mungkin terkena sebelum bergejala

  • Menilai calon donor ginjal dari keluarga, karena saudara kandung atau orang tua yang tampak sehat bisa saja membawa penyakit yang sama

  • Memperkirakan risiko penyakit kambuh pada ginjal cangkok setelah transplantasi

  • Merencanakan kehamilan dan konseling genetik

Pemeriksaan genetik belum tersedia luas di Indonesia, tetapi riwayat keluarga yang cermat dan USG ginjal sudah dapat memberi banyak petunjuk.


4. Diabetes di usia muda

Diabetes adalah salah satu penyebab gagal ginjal terbesar di dunia. Pada usia muda, ada dua bentuk yang perlu diperhatikan:

Diabetes tipe 1, yang umumnya muncul pada anak dan remaja. Kerusakan ginjal biasanya mulai tampak 10–20 tahun setelah diagnosis, sehingga seseorang yang didiagnosis saat anak-anak dapat mengalami penyakit ginjal diabetik di usia 20-an atau 30-an bila gula darahnya tidak terkendali.

Diabetes tipe 2 yang muncul di usia muda, yang kian sering seiring meningkatnya obesitas pada remaja dan dewasa muda. Bentuk ini ternyata lebih agresif daripada diabetes tipe 2 yang muncul di usia tua. Studi TODAY di Amerika Serikat (New England Journal of Medicine, 2021) mengikuti peserta yang terdiagnosis diabetes tipe 2 saat remaja. Dalam sekitar 15 tahun, ketika rata-rata usia mereka baru 26 tahun, sekitar 55% sudah mengalami penyakit ginjal diabetik, dan lebih dari separuh mengalami setidaknya satu komplikasi pembuluh darah kecil.

Tanda paling awal penyakit ginjal diabetik adalah albumin di urin, jauh sebelum kreatinin naik. Karena itu, penderita diabetes dianjurkan memeriksa UACR dan eGFR setidaknya setahun sekali. Bila ditemukan dini, kombinasi kendali gula darah, tekanan darah, dan obat-obatan pelindung ginjal yang kini tersedia dapat memperlambat perburukan secara bermakna.


5. Hipertensi di usia muda

Hipertensi sering dianggap penyakit orang tua. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan sebaliknya: berdasarkan pengukuran, 10,7% penduduk usia 18–24 tahun dan 17,4% penduduk usia 25–34 tahun memiliki tekanan darah tinggi. Namun yang pernah didiagnosis dokter hanya 0,4% dan 1,8%. Artinya, sebagian besar anak muda dengan hipertensi tidak tahu bahwa tekanan darahnya tinggi.

Hubungan hipertensi dan ginjal berjalan dua arah:

  • Hipertensi merusak ginjal. Tekanan darah yang tinggi selama bertahun-tahun merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Karena paparannya dimulai lebih awal, total kerusakan pada orang muda bisa lebih besar.

  • Penyakit ginjal menyebabkan hipertensi. Pada usia muda, tekanan darah tinggi sering menjadi tanda pertama penyakit ginjal lain yang mendasari, seperti glomerulonefritis, refluks, atau ginjal polikistik.

Karena itu, panduan hipertensi menganjurkan mencari penyebab sekunder pada hipertensi yang muncul di usia muda. Pemeriksaan urin, kreatinin, dan bila perlu USG ginjal sebaiknya menjadi bagian dari evaluasi awal. Pembahasan lengkap tentang kerusakan organ akibat hipertensi ada di artikel Dampak Hipertensi yang Tidak Terkendali.


6. Obesitas, minuman manis, garam, dan rokok

Obesitas

Obesitas merusak ginjal lewat dua jalur. Secara tidak langsung, obesitas memicu diabetes, hipertensi, dan henti napas saat tidur (sleep apnea). Secara langsung, tubuh yang lebih besar memaksa setiap glomerulus bekerja lebih keras (hiperfiltrasi). Lama-kelamaan, beban berlebih ini dapat menyebabkan kerusakan glomerulus yang disebut glomerulopati terkait obesitas, dengan gambaran yang mirip FSGS dan kebocoran protein. Obesitas juga meningkatkan risiko batu ginjal.

Minuman manis

Menurut SKI 2023, 47,5% penduduk Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari, dan pada anak usia 3–14 tahun angkanya di atas 50%. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa konsumsi minuman manis yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal.

Bukti penelitiannya mendukung hal ini. Studi terhadap lebih dari 127 ribu peserta UK Biobank (JAMA Network Open, 2024) yang diikuti sekitar 10 tahun menemukan bahwa minum lebih dari satu porsi minuman berpemanis gula per hari berkaitan dengan risiko PGK sekitar 19% lebih tinggi. Minuman berpemanis buatan juga berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi (26%), sedangkan mengganti satu porsi minuman manis dengan air putih berkaitan dengan risiko sekitar 7% lebih rendah. Sebagai studi observasional, hasil ini menunjukkan keterkaitan, bukan bukti sebab-akibat langsung.

Perlu diluruskan juga: minuman manis tidak merusak ginjal dalam semalam. Dokter nefrologi anak di RSHS Bandung menjelaskan bahwa pola makan yang tidak sehat baru merusak ginjal setelah melewati tahapan hipertensi, diabetes, dan obesitas. Justru karena prosesnya lambat dan tidak terasa, kebiasaan minum manis sejak kecil dapat menjadi "bom waktu" di usia 30-an dan 40-an.

Garam

Asupan garam yang tinggi menaikkan tekanan darah dan memperbanyak kebocoran protein pada ginjal yang sudah rusak. Batasi garam hingga < 5 gram per hari (sekitar satu sendok teh), termasuk garam tersembunyi dalam mi instan, makanan kemasan, saus, kecap, dan makanan cepat saji.

Rokok

Merokok mempercepat kerusakan pembuluh darah, termasuk di ginjal, dan mempercepat perburukan pada hampir semua jenis penyakit ginjal.


7. Obat, jamu, suplemen, dan steroid anabolik

Obat antinyeri golongan NSAID

Orang muda sering memakai obat antinyeri seperti asam mefenamat, ibuprofen, natrium diklofenak, atau naproksen untuk nyeri haid, sakit kepala, atau cedera olahraga. Pada ginjal yang sehat, pemakaian singkat dengan dosis yang benar umumnya aman. Risikonya meningkat bila obat ini dipakai terus-menerus dalam jangka panjang, dalam dosis tinggi, saat tubuh kekurangan cairan, atau pada orang yang sudah memiliki penyakit ginjal tanpa menyadarinya. Penjelasan tentang cara NSAID mengganggu aliran darah ginjal ada di artikel Gangguan Ginjal Akut.

Jamu dan obat bahan alam dengan bahan kimia obat

Pada Februari 2026, BPOM melaporkan temuan 41 produk obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat. Produk "pegal linu" dan antinyeri antara lain mengandung naproksen, ibuprofen, parasetamol, dan deksametason. Artinya, seseorang yang merasa "hanya minum jamu" setiap hari bisa saja menelan obat antinyeri dan steroid tanpa takaran yang jelas. Hal yang sama berlaku untuk produk "detoks ginjal" atau "pembersih ginjal" yang tidak terdaftar.

Steroid anabolik dan suplemen kebugaran

Penyalahgunaan steroid anabolik untuk membentuk otot dapat merusak ginjal. Serial kasus di Journal of the American Society of Nephrology (Herlitz dkk., 2010) melaporkan 10 binaragawan pengguna steroid anabolik jangka panjang yang mengalami FSGS, dengan kebocoran protein rata-rata sekitar 10 gram per hari. Setelah steroid dihentikan dan mendapat obat pelindung ginjal, kebocoran protein dan kadar kreatinin rata-rata membaik, sedangkan satu pasien yang kembali memakai steroid mengalami kekambuhan.

Beberapa hal lain yang perlu diketahui para pegiat kebugaran:

  • Suplemen kreatin dapat menaikkan kadar kreatinin darah tanpa berarti ginjal rusak, sehingga hasil laboratorium bisa disalahartikan. Sampaikan kepada dokter bila Anda memakainya.

  • Diet tinggi protein umumnya tidak merusak ginjal yang sehat, tetapi dapat membebani ginjal yang sudah sakit. Bila Anda belum pernah memeriksakan fungsi ginjal, lakukan sebelum menjalani diet atau program suplemen yang ekstrem.

  • Vitamin C dosis sangat tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar oksalat dan risiko batu atau kerusakan ginjal pada sebagian orang.


8. Batu, sumbatan, dan infeksi saluran kemih berulang

Batu saluran kemih yang berulang, berukuran besar, atau menyumbat dalam waktu lama dapat merusak ginjal secara permanen, apalagi bila disertai infeksi. Faktor risikonya antara lain kurang minum, iklim panas, asupan garam tinggi, obesitas, dan kelainan metabolik tertentu. Pada sebagian kecil orang muda dengan batu berulang sejak kecil, penyebabnya adalah penyakit genetik seperti sistinuria atau hiperoksaluria primer, yang dapat menyebabkan gagal ginjal di usia muda bila tidak dikenali.

Infeksi ginjal berulang (pielonefritis), terutama bila ada refluks atau sumbatan, meninggalkan jaringan parut yang lama-kelamaan mengurangi jumlah nefron. Kandung kemih neurogenik, misalnya pada penderita spina bifida atau cedera saraf tulang belakang, juga berisiko tinggi merusak ginjal bila pengosongan kandung kemih tidak dikelola dengan baik.

Kabar baiknya, kelompok penyebab ini sebagian besar dapat dicegah atau diatasi: minum cukup, penanganan batu yang tuntas, pemeriksaan penyebab batu berulang, dan pengobatan infeksi yang tepat.


9. Gangguan ginjal akut yang meninggalkan bekas

Orang muda juga dapat mengalami gangguan ginjal akut, misalnya akibat leptospirosis setelah banjir, demam berdarah berat, dehidrasi berat, kerusakan otot (rabdomiolisis) setelah latihan fisik yang ekstrem, infeksi berat, atau preeklampsia saat hamil.

Banyak pasien pulih, tetapi tidak selalu sempurna. Meta-analisis tahun 2025 terhadap lebih dari 1,8 juta partisipan menemukan bahwa setelah gangguan ginjal akut, risiko penyakit ginjal kronik sekitar 2,4 kali dan risiko gagal ginjal sekitar 2,6 kali lebih tinggi. Karena itu, siapa pun yang pernah mengalami gangguan ginjal akut perlu memeriksakan ulang fungsi ginjalnya beberapa bulan kemudian, meskipun sudah merasa sehat. Pembahasan lengkapnya ada di artikel Gangguan Ginjal Akut (Acute Kidney Injury): Apa Itu dan Apa Saja Penyebabnya.


10. Panas, dehidrasi berulang, dan kerja fisik berat

Sejak awal 2000-an, dunia kedokteran menyoroti epidemi penyakit ginjal kronik yang tidak terkait diabetes maupun hipertensi di komunitas pertanian beriklim panas, seperti di Amerika Tengah, Sri Lanka, dan India. Penyakit yang disebut chronic kidney disease of unknown etiology (CKDu) atau nefropati Mesoamerika ini banyak mengenai laki-laki muda yang bekerja fisik berat di bawah terik matahari, misalnya buruh tebu. Kerusakannya terutama pada tubulus dan jaringan penyangga ginjal, dengan kebocoran protein yang sedikit, sehingga mudah terlewat.

Penyebab pastinya masih diteliti. Paparan panas dan dehidrasi yang berulang diduga berperan besar, di samping faktor lain seperti bahan kimia pertanian, infeksi, dan obat antinyeri. Kondisi ini belum banyak diteliti di Indonesia, tetapi pekerja lapangan di negara tropis patut waspada. Upaya pencegahan yang dianjurkan untuk pekerja di lingkungan panas bertumpu pada tiga hal sederhana: air minum yang cukup, waktu istirahat, dan tempat berteduh.


11. Faktor sejak lahir dan kehamilan

Lahir prematur atau dengan berat badan rendah

Pembentukan nefron berlangsung hingga sekitar usia kehamilan 34–36 minggu. Bayi yang lahir prematur atau dengan berat lahir rendah cenderung memiliki jumlah nefron yang lebih sedikit seumur hidupnya, sehingga ginjalnya lebih rentan saat mendapat beban tambahan seperti obesitas, hipertensi, atau diabetes.

Studi kohort nasional Swedia terhadap lebih dari 4 juta orang (BMJ, 2019) menemukan bahwa kelahiran prematur berkaitan dengan risiko PGK hampir 2 kali lipat, dan kelahiran sangat prematur (< 28 minggu) sekitar 3 kali lipat. Keterkaitan ini paling kuat di masa kanak-kanak, tetapi masih terlihat hingga usia 20–43 tahun. Risiko absolutnya tetap rendah, tetapi riwayat ini patut disampaikan kepada dokter dan menjadi alasan untuk rutin memeriksa tekanan darah dan urin.

Preeklampsia

Preeklampsia adalah hipertensi dalam kehamilan yang disertai kerusakan organ, termasuk kebocoran protein di urin. Studi di Norwegia (New England Journal of Medicine, 2008) menemukan bahwa perempuan yang mengalami preeklampsia pada kehamilan pertama memiliki risiko gagal ginjal di kemudian hari sekitar 4,7 kali lebih tinggi, meskipun risiko absolutnya tetap kecil. Kehamilan juga sering "membuka" penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya, karena saat itulah banyak perempuan muda pertama kali diperiksa urin dan tekanan darahnya.

Perempuan yang pernah mengalami preeklampsia sebaiknya memeriksa tekanan darah, urin, dan fungsi ginjal secara berkala setelah melahirkan, tidak berhenti begitu masa nifas selesai.

Ketika penyebabnya tidak diketahui

Pada banyak pasien muda, penyebab gagal ginjal tidak pernah diketahui. Laporan Indonesian Renal Registry 2020 mencatat 16% pasien dengan penyebab yang tidak diketahui, dan registri Eropa melaporkan sekitar seperempat pasien terapi pengganti ginjal tanpa diagnosis pasti. Alasannya hampir selalu sama: pasien datang ketika kedua ginjal sudah mengecil dan penuh jaringan parut, sehingga biopsi tidak lagi dapat menunjukkan penyakit awalnya.

Ini bukan sekadar soal catatan medis. Bagi pasien muda, penyebab yang tidak diketahui berarti:

  • Kehilangan kesempatan mendapat pengobatan spesifik ketika penyakit masih dapat dikendalikan

  • Anggota keluarga yang mungkin membawa penyakit yang sama tidak diperiksa

  • Penilaian calon donor ginjal dari keluarga dan risiko kekambuhan di ginjal cangkok menjadi lebih sulit

Karena itu, menemukan penyakit ginjal sejak dini jauh lebih berharga daripada menemukan gagal ginjal.


Mengapa sering terlambat diketahui

Beberapa alasan membuat penyakit ginjal pada orang muda sering baru ditemukan di tahap akhir:

  1. Ginjal memiliki cadangan yang sangat besar. Seseorang dapat hidup normal dengan satu ginjal. Keluhan umumnya baru muncul ketika fungsi ginjal tersisa kurang dari 15–20%.

  2. Orang muda merasa sehat dan jarang memeriksakan diri, apalagi memeriksa urin atau tekanan darah.

  3. Keluhannya tidak khas. Lelah, sulit berkonsentrasi, kurang nafsu makan, mual, dan gatal mudah dianggap akibat kurang tidur, stres, atau masalah lambung. Anemia pada perempuan muda sering langsung dianggap akibat haid.

  4. Hasil pemeriksaan yang abnormal diabaikan. Darah samar atau protein di urin saat pemeriksaan kesehatan kerja sering tidak ditindaklanjuti karena "tidak ada keluhan".

  5. Tekanan darah tinggi tidak diukur, atau dianggap wajar karena stres dan kurang tidur.

Akibatnya, tidak sedikit pasien muda yang pertama kali mengetahui penyakitnya di IGD, dalam keadaan sesak, muntah-muntah, atau kalium darah sangat tinggi, dan langsung memerlukan cuci darah darurat.


Tanda yang perlu diwaspadai

Tanda

Kemungkinan artinya

Urin berbuih yang menetap dan busanya tidak cepat hilang

Protein bocor dari saringan ginjal

Urin merah, seperti teh, atau seperti cola, terutama 1–3 hari setelah flu atau radang tenggorokan

Radang saringan ginjal, misalnya nefropati IgA

Bengkak di kelopak mata saat bangun tidur, atau di tungkai

Kebocoran protein atau penumpukan cairan

Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg di usia muda

Hipertensi, sekaligus kemungkinan tanda penyakit ginjal yang mendasari

Sering terbangun malam untuk buang air kecil

Kemampuan ginjal memekatkan urin menurun

Pucat, lemas, dan mudah lelah tanpa sebab jelas

Anemia akibat berkurangnya hormon eritropoietin dari ginjal

Nyeri sendi, ruam di wajah, rambut rontok, sariawan, disertai kelainan urin

Lupus

Nyeri pinggang berulang, kencing batu, atau infeksi saluran kemih berulang

Batu, infeksi, atau sumbatan

Riwayat keluarga cuci darah, ginjal berkista, atau gangguan pendengaran disertai darah di urin

Penyakit ginjal genetik

Tahap lanjut: mual, muntah, gatal di seluruh tubuh, kram otot, napas berbau, sesak, sulit konsentrasi, urin berkurang

Fungsi ginjal sudah sangat menurun

Satu catatan: urin yang sesekali berbuih, misalnya saat buang air kecil dengan pancaran deras atau saat urin pekat di pagi hari, bisa normal. Yang perlu diperiksa adalah busa yang selalu ada dan tidak cepat hilang.

Segera ke IGD bila:

  • Sesak napas, terutama bila tidak bisa berbaring datar

  • Urin sangat sedikit atau tidak keluar sama sekali

  • Muntah terus-menerus sehingga tidak bisa makan dan minum

  • Berdebar, denyut tidak teratur, atau lemah otot yang berat, yang dapat menandakan kalium sangat tinggi

  • Bingung, sangat mengantuk, atau kejang

  • Tekanan darah sangat tinggi (> 180/120 mmHg) disertai sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri dada, atau sesak

  • Batuk darah disertai urin merah

Pemeriksaan untuk deteksi dini dan siapa yang perlu

Penyakit ginjal hampir selalu dapat dideteksi jauh sebelum bergejala, dengan pemeriksaan yang sederhana dan relatif murah:

Pemeriksaan

Yang dicari

Keterangan

Tekanan darah

Hipertensi

Ukur di klinik dan bila perlu di rumah

Urinalisis (urin lengkap), termasuk pemeriksaan sedimen di mikroskop

Protein, darah, sel darah putih, silinder

Murah dan sangat informatif; darah samar yang menetap perlu ditindaklanjuti

Rasio albumin-kreatinin urin (UACR)

Kebocoran albumin, tanda dini kerusakan ginjal

Dapat abnormal saat eGFR masih normal

Kreatinin darah dan eGFR

Fungsi penyaringan ginjal

Pada orang sangat berotot atau pengguna suplemen kreatin, kreatinin dapat tampak lebih tinggi; pada orang yang sangat kurus, dapat tampak lebih rendah. Pemeriksaan cystatin C dapat membantu

Gula darah puasa atau HbA1c

Diabetes

Terutama bila berat badan berlebih atau ada riwayat keluarga diabetes

USG ginjal

Ukuran ginjal, kista, batu, sumbatan

Terutama bila ada riwayat keluarga ginjal polikistik, batu atau infeksi berulang, atau hasil laboratorium abnormal

Pemeriksaan lanjutan sesuai kecurigaan

Penyebab spesifik

Misalnya ANA dan anti-dsDNA untuk lupus, komplemen, HBsAg, anti-HCV, HIV, biopsi ginjal, dan tes genetik

Siapa yang sebaiknya memeriksakan diri

Pertimbangkan untuk memeriksa tekanan darah, urinalisis, UACR, dan kreatinin/eGFR bila Anda:

Hitung eGFR Anda: masukkan kadar kreatinin dari hasil lab ke Kalkulator eGFR & Stadium Ginjal untuk mengetahui stadium G1–G5 dan, bila UACR juga diisi, posisi Anda pada peta risiko KDIGO.

  • Memiliki anggota keluarga dengan penyakit ginjal, riwayat cuci darah, ginjal berkista, atau transplantasi ginjal

  • Memiliki tekanan darah tinggi di usia muda

  • Mengidap diabetes, pradiabetes, atau obesitas

  • Mengidap lupus atau penyakit autoimun lain

  • Pernah mengalami gangguan ginjal akut, preeklampsia, atau lahir prematur atau dengan berat lahir rendah

  • Sering mengalami batu atau infeksi saluran kemih, atau pernah mengalaminya berulang di masa kecil

  • Rutin memakai obat antinyeri, jamu pegal linu, atau steroid anabolik

  • Pernah dinyatakan memiliki protein atau darah di urin saat pemeriksaan sebelumnya

  • Mengidap hepatitis B, hepatitis C, atau HIV

Contoh keberhasilan deteksi dini datang dari Jepang. Sejak 1974, Jepang memeriksa urin seluruh murid sekolah dengan tes dipstik sederhana untuk mencari protein dan darah. Program ini menemukan banyak kasus radang saringan ginjal, termasuk nefropati IgA, sebelum bergejala, dan dinilai berperan dalam turunnya angka gagal ginjal akibat glomerulonefritis kronik pada anak dan dewasa muda di sana.

Di Indonesia, program Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan untuk orang dewasa mencantumkan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan fungsi ginjal. Tanyakan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jenis pemeriksaan yang tersedia untuk Anda. Simpan hasil pemeriksaan Anda, karena perubahan dari waktu ke waktu sering lebih bermakna daripada satu angka.


Bila penyakit ginjal sudah ditemukan

Ditemukannya penyakit ginjal di usia muda bukan vonis. Pada banyak penyebab, perburukan dapat diperlambat secara bermakna, bahkan dihentikan:

  1. Obati penyebabnya bila ada pengobatan spesifik, misalnya obat penekan kekebalan untuk nefritis lupus atau jenis glomerulonefritis tertentu.

  2. Kendalikan tekanan darah sesuai target yang ditetapkan dokter. Obat golongan ACE inhibitor atau ARB diutamakan bila ada kebocoran protein. Baca juga: Jenis-Jenis Obat Hipertensi: Manfaat, Indikasi, dan Efek Sampingnya.

  3. Gunakan obat pelindung ginjal yang kini tersedia sesuai indikasi, seperti penghambat SGLT2.

  4. Kendalikan gula darah, berat badan, dan asupan garam, serta berhenti merokok.

  5. Hindari zat yang merusak ginjal: NSAID, jamu tanpa izin edar, dan suplemen yang tidak jelas.

  6. Rencanakan kehamilan bersama dokter spesialis ginjal dan dokter kandungan, karena beberapa obat harus diganti sebelum hamil dan penyakit sebaiknya dalam keadaan tenang.

  7. Kontrol teratur, meskipun merasa sehat.

Bila fungsi ginjal terus menurun, persiapan terapi pengganti ginjal sebaiknya dimulai jauh sebelum keadaan darurat. Bagi banyak pasien muda, transplantasi ginjal adalah pilihan terbaik. Penelitian menunjukkan penerima transplantasi memiliki harapan hidup yang lebih panjang dibanding pasien yang tetap menjalani dialisis sambil menunggu donor, dengan kualitas hidup yang umumnya lebih baik untuk sekolah, bekerja, dan berkeluarga. Bila ada calon donor hidup dari keluarga, transplantasi bahkan dapat direncanakan sebelum pasien sempat menjalani cuci darah.


Mitos yang masih sering dipercaya

"Gagal ginjal itu penyakit orang tua." Keliru. Sekitar 1 dari 5 pasien baru hemodialisis di Indonesia berusia di bawah 45 tahun, dan banyak di antaranya sudah memiliki penyakit ginjal sejak remaja tanpa menyadarinya.

"Masih muda dan tidak ada keluhan, berarti ginjal pasti sehat." Penyakit ginjal hampir tidak bergejala sampai fungsinya tersisa sangat sedikit. Satu-satunya cara mengetahui kesehatan ginjal adalah dengan pemeriksaan darah, urin, dan tekanan darah.

"Minuman berenergi atau kopi saset langsung menyebabkan gagal ginjal." Bukti bahwa minuman berenergi secara langsung menyebabkan PGK masih lemah dan sebagian besar berupa laporan kasus pada konsumsi berlebihan. Masalah yang lebih nyata adalah kandungan gulanya, yang bila diminum setiap hari selama bertahun-tahun ikut mendorong obesitas dan diabetes, dua jalan menuju penyakit ginjal.

"Minum air putih sebanyak-banyaknya pasti mencegah gagal ginjal." Minum cukup penting, terutama untuk mencegah batu ginjal, saat bekerja di tempat panas, dan pada ginjal polikistik. Namun minum melebihi kebutuhan tidak terbukti melindungi ginjal secara umum. Uji klinis CKD WIT (JAMA, 2018) menunjukkan bahwa menambah asupan air selama setahun tidak memperlambat penurunan fungsi ginjal pada pasien PGK stadium 3. Pada ginjal yang sudah sangat rusak, minum berlebihan justru dapat menumpuk sebagai bengkak dan cairan di paru.

"Sering menahan kencing menyebabkan gagal ginjal." Kebiasaan ini tidak baik dan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, tetapi bukan penyebab utama gagal ginjal pada orang dengan saluran kemih normal. Yang berbahaya adalah infeksi ginjal berulang dan sumbatan yang tidak ditangani.

"Urin berbuih pasti tanda ginjal bocor." Tidak selalu. Busa sesekali bisa normal. Busa yang menetap dan tidak cepat hilang perlu diperiksa dengan urinalisis dan UACR, bukan ditebak.

"Jamu dan produk detoks bisa membersihkan ginjal." Ginjal yang sehat sudah membersihkan darah dengan sendirinya. Sebagian produk ilegal justru mengandung obat kimia seperti NSAID dan steroid yang dapat merusak ginjal.

"Sekali cuci darah, akan ketergantungan seumur hidup." Cuci darah tidak menyebabkan ketergantungan. Pasien memerlukannya karena ginjalnya sudah tidak mampu bekerja. Menolak atau menunda cuci darah yang dibutuhkan dapat berakibat fatal. Pada gangguan ginjal akut, dialisis sering hanya sementara. Pada gagal ginjal kronik, transplantasi ginjal memungkinkan pasien lepas dari dialisis.


Langkah pencegahan

  1. Periksa tekanan darah dan urin secara berkala, bahkan di usia 20-an, terutama bila Anda termasuk kelompok berisiko di atas.

  2. Jangan abaikan hasil urin yang abnormal. Protein atau darah di urin, meskipun "hanya +1", perlu diulang dan ditindaklanjuti ke dokter.

  3. Kenali riwayat kesehatan keluarga. Tanyakan apakah ada anggota keluarga yang cuci darah, memiliki ginjal berkista, lupus, atau gangguan pendengaran di usia muda.

  4. Jaga berat badan dan bergerak aktif setidaknya 150 menit per minggu.

  5. Kurangi minuman manis; jadikan air putih minuman utama.

  6. Batasi garam hingga < 5 gram per hari dan kurangi makanan olahan.

  7. Jangan merokok.

  8. Bijak memakai obat antinyeri, hindari jamu tanpa izin edar, dan cek nomor izin edar lewat aplikasi atau laman Cek BPOM. Hindari steroid anabolik.

  9. Minum cukup saat bekerja atau berolahraga di cuaca panas, dan beristirahat di tempat teduh.

  10. Obati tuntas infeksi saluran kemih dan batu ginjal, dan cari penyebabnya bila berulang.

  11. Kontrol fungsi ginjal setelah mengalami gangguan ginjal akut atau preeklampsia.

  12. Bila Anda mengidap diabetes, hipertensi, atau lupus, periksakan UACR dan eGFR setidaknya setahun sekali, dan jangan berhenti berobat saat merasa sehat.


Pertanyaan yang sering diajukan

Saya berusia 25 tahun dan merasa sehat. Apakah perlu memeriksa ginjal? Pemeriksaan tekanan darah dan urinalisis sederhana bermanfaat bagi semua orang dewasa, dan dapat dilakukan saat pemeriksaan kesehatan rutin. Bila Anda memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, hipertensi, diabetes, obesitas, atau lupus, tambahkan pemeriksaan kreatinin/eGFR dan UACR.

Urin saya berwarna seperti teh setelah flu. Apakah berbahaya? Urin yang berwarna merah atau seperti teh tidak boleh diabaikan, apalagi bila muncul 1–3 hari setelah flu atau radang tenggorokan. Kemungkinan penyebabnya antara lain nefropati IgA, tetapi dapat juga karena batu, infeksi, atau kerusakan otot. Periksakan diri ke dokter untuk urinalisis dan pemeriksaan lanjutan.

Ayah saya cuci darah karena ginjal polikistik. Apakah saya pasti terkena? Tidak pasti. Setiap anak memiliki peluang 50% untuk mewarisinya. Konsultasikan dengan dokter; pemeriksaan USG ginjal dapat membantu memastikan, dan bila positif, pengendalian tekanan darah sejak dini serta pengobatan yang tepat dapat memperlambat perburukannya.

Apakah gagal ginjal di usia muda bisa sembuh? Tergantung penyebab dan tahapnya. Gangguan ginjal akut sering dapat pulih. Beberapa jenis radang saringan ginjal dapat membaik dengan pengobatan bila ditemukan dini. Penyakit ginjal kronik yang sudah menimbulkan jaringan parut umumnya tidak dapat kembali normal, tetapi perburukannya dapat diperlambat, sering sampai bertahun-tahun.

Apakah perempuan dengan penyakit ginjal kronik boleh hamil? Banyak yang dapat hamil dengan selamat, tetapi risikonya lebih tinggi, baik bagi ibu, janin, maupun fungsi ginjal. Kehamilan sebaiknya direncanakan bersama dokter spesialis ginjal dan dokter kandungan. Beberapa obat, seperti ACE inhibitor, ARB, dan sebagian obat penekan kekebalan, perlu diganti sebelum hamil, dan penyakit seperti lupus sebaiknya dalam keadaan tenang.

Saya rutin minum suplemen kreatin dan protein untuk fitness. Apakah ginjal saya aman? Pada ginjal yang sehat, kreatin dan protein dalam jumlah wajar umumnya tidak terbukti merusak ginjal. Namun kreatin dapat menaikkan kadar kreatinin darah sehingga hasil laboratorium tampak seperti gangguan ginjal. Sampaikan pemakaian suplemen kepada dokter, dan periksakan fungsi ginjal terlebih dahulu bila Anda belum pernah melakukannya. Steroid anabolik adalah hal yang berbeda dan dapat merusak ginjal.

Apakah transplantasi ginjal bisa dilakukan pada pasien muda? Bisa, dan bagi banyak pasien muda justru merupakan pilihan terbaik. Donor dapat berasal dari anggota keluarga yang sehat dan cocok. Bila penyakit ginjal Anda diturunkan dalam keluarga, calon donor dari keluarga akan diperiksa lebih teliti untuk memastikan ia tidak membawa penyakit yang sama.

Ilustrasi sepasang ginjal di samping sepatu kets dan headphone

Penutup

Gagal ginjal di usia muda jarang terjadi tiba-tiba. Hampir selalu ada jejak yang bisa ditemukan bertahun-tahun sebelumnya: darah samar di urin saat pemeriksaan kerja, tekanan darah yang tinggi di usia 20-an, urin yang selalu berbuih, riwayat keluarga yang tidak pernah ditanyakan, atau diabetes yang muncul terlalu dini. Penyebabnya pun beragam, dari penyakit bawaan dan autoimun yang tidak dapat dicegah, hingga kebiasaan sehari-hari yang sepenuhnya dapat diubah.

Yang menyatukan semuanya adalah satu hal: penyakit ginjal yang ditemukan lebih awal memberi lebih banyak pilihan. Pemeriksaan tekanan darah dan urin yang sederhana dapat menjadi pembeda antara pengobatan yang menyelamatkan ginjal dan cuci darah darurat di IGD.

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus dilakukan oleh dokter.

Referensi

Komentar


bottom of page