top of page

Gangguan Ginjal Akut (Acute Kidney Injury): Apa Itu dan Apa Saja Penyebabnya

Gambar penulis: Dana Pramudya
Dana Pramudya
25 Sep
24 menit membaca

Diperbarui: 19 Okt


Ilustrasi ginjal berplester di samping jam pasir

Ginjal bisa rusak perlahan selama bertahun-tahun, seperti pada hipertensi dan diabetes. Namun ginjal juga bisa "tumbang" dalam hitungan jam hingga hari. Seorang kakek yang diare tiga hari tetapi tetap minum obat darah tinggi dan obat pegal linu. Seorang pekerja yang membersihkan rumah setelah banjir, lalu demam tinggi dan matanya menguning. Pasien infeksi berat yang dirawat di ICU. Seorang balita yang tiba-tiba tidak buang air kecil seharian. Keempatnya bisa berujung pada diagnosis yang sama: gangguan ginjal akut.

Kondisi ini jauh lebih sering daripada yang dibayangkan. Inisiatif 0by25 dari International Society of Nephrology memperkirakan ada sekitar 13,3 juta kasus gangguan ginjal akut setiap tahun di dunia, dengan sekitar 1,7 juta kematian, dan kira-kira 85% kasusnya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia. Di negara maju, gangguan ginjal akut dialami sekitar 1 dari 5 pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit dan sekitar separuh pasien dewasa di ICU. Di sebuah ICU rumah sakit rujukan di Jakarta, angkanya 43%.

Kabar baiknya, gangguan ginjal akut termasuk penyakit ginjal yang paling bisa dicegah, dan bila penyebabnya cepat diatasi, fungsi ginjal sering dapat pulih. Kuncinya adalah mengenali penyebabnya. Artikel ini membahas apa itu gangguan ginjal akut, bagaimana dokter menegakkan diagnosisnya, apa saja penyebabnya (termasuk yang khas di Indonesia), siapa yang paling berisiko, tanda bahaya yang perlu diwaspadai, dan langkah pencegahannya.

Catatan penting: artikel ini bersifat edukatif. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus dilakukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing individu.

Daftar Isi

  1. Apa itu gangguan ginjal akut?

  2. Mengapa istilahnya "gangguan", bukan "gagal"?

  3. Bedanya dengan penyakit ginjal kronik

  4. Bagaimana gangguan ginjal akut didiagnosis

  5. Tiga kelompok besar penyebab

  6. Penyebab prarenal: aliran darah ke ginjal berkurang

  7. Penyebab renal: jaringan ginjal sendiri rusak

  8. Penyebab pascarenal: aliran urin tersumbat

  9. Penyebab yang khas di Indonesia dan negara tropis

  10. Pelajaran dari kasus gangguan ginjal akut pada anak tahun 2022

  11. Siapa yang paling berisiko

  12. Gejala dan kapan harus ke IGD

  13. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan

  14. Prinsip penanganan

  15. Apakah ginjal bisa pulih sepenuhnya?

  16. Mitos yang masih sering dipercaya

  17. Langkah pencegahan

  18. Pertanyaan yang sering diajukan


Apa itu gangguan ginjal akut?

Setiap hari, kedua ginjal menyaring sekitar 180 liter plasma darah dan menghasilkan 1–2 liter urin. Lewat proses itu, ginjal membuang sisa metabolisme seperti ureum dan kreatinin, mengatur jumlah cairan tubuh, menjaga kadar natrium dan kalium, menyeimbangkan asam-basa darah, serta ikut mengatur tekanan darah dan produksi sel darah merah.

Gangguan ginjal akut (GGA), dalam istilah medis acute kidney injury (AKI), adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak, dalam hitungan jam hingga hari. Panduan internasional KDIGO memakai batas waktu 7 hari. Akibatnya:

  • Sisa metabolisme menumpuk di dalam darah (ureum dan kreatinin naik)

  • Cairan tertahan sehingga muncul bengkak, bahkan cairan di paru

  • Kalium darah dapat naik sampai berbahaya bagi irama jantung

  • Darah menjadi terlalu asam (asidosis metabolik)

  • Obat-obatan yang dibuang lewat ginjal menumpuk dan kadarnya bisa menjadi racun

Gangguan ginjal akut bukan satu penyakit, melainkan sindrom, yaitu kumpulan keadaan dengan hasil akhir yang sama. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari dehidrasi sederhana sampai penyakit autoimun.


Mengapa istilahnya "gangguan", bukan "gagal"?

Dulu kondisi ini disebut gagal ginjal akut (acute renal failure), dan istilah itu masih sering dipakai sehari-hari. Sejak pertengahan 2000-an, dunia kedokteran beralih ke istilah acute kidney injury, yang di Indonesia diterjemahkan sebagai gangguan ginjal akut atau cedera ginjal akut.

Alasannya penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kreatinin yang kecil sekalipun, misalnya hanya 0,3 mg/dL, sudah berkaitan dengan risiko kematian dan lama rawat yang lebih tinggi. Artinya, kerusakan ginjal akut adalah sebuah spektrum: dari gangguan ringan yang hanya terlihat di hasil laboratorium, sampai gagal ginjal berat yang memerlukan cuci darah. Kata "gagal" hanya menggambarkan ujung paling berat dari spektrum itu, sehingga kasus-kasus ringan yang sebenarnya penting mudah terabaikan.


Bedanya dengan penyakit ginjal kronik


Gangguan ginjal akut (GGA)

Penyakit ginjal kronik (PGK)

Waktu terjadinya

Jam hingga hari

Berlangsung lebih dari 3 bulan

Penyebab khas

Dehidrasi, infeksi berat, obat dan racun, sumbatan saluran kemih

Diabetes, hipertensi, penyakit glomerulus, penyakit ginjal bawaan

Gejala

Sering tidak ada; dapat berupa urin berkurang, bengkak, sesak, mual

Sering tidak ada sampai tahap lanjut

Ukuran ginjal pada USG

Umumnya normal

Sering mengecil (kecuali pada penyakit tertentu seperti diabetes dan ginjal polikistik)

Pemulihan

Sering pulih sebagian atau penuh bila penyebab cepat diatasi

Kerusakan umumnya menetap, tetapi perburukannya dapat diperlambat

Di antara keduanya ada fase yang disebut penyakit ginjal akut (acute kidney disease, AKD), yaitu gangguan fungsi atau struktur ginjal yang berlangsung hingga 3 bulan. Fase ini adalah masa "persimpangan jalan": ginjal bisa pulih, atau berlanjut menjadi penyakit ginjal kronik.

Kedua kondisi ini juga saling terkait. Penderita penyakit ginjal kronik jauh lebih mudah mengalami gangguan ginjal akut (disebut AKI on CKD), dan sebaliknya, gangguan ginjal akut meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik di kemudian hari.


Bagaimana gangguan ginjal akut didiagnosis

Karena sering tidak bergejala, diagnosis gangguan ginjal akut hampir selalu ditegakkan dari dua hal yang dapat diukur: kadar kreatinin darah dan jumlah urin.

Kriteria diagnosis

Menurut panduan KDIGO 2012 yang hingga kini menjadi acuan utama, seseorang dinyatakan mengalami gangguan ginjal akut bila memenuhi salah satu kriteria berikut:

  • Kreatinin serum naik ≥ 0,3 mg/dL dalam 48 jam, atau

  • Kreatinin serum naik menjadi ≥ 1,5 kali nilai dasar, yang diketahui atau diperkirakan terjadi dalam 7 hari terakhir, atau

  • Volume urin < 0,5 mL per kg berat badan per jam selama 6 jam

Sebagai gambaran, pada orang dewasa berbobot 60 kg, urin kurang dari 180 mL dalam 6 jam (kurang dari satu gelas) sudah memenuhi kriteria. Contoh lain: kreatinin yang biasanya 1,0 mg/dL lalu menjadi 1,3 mg/dL dalam dua hari sudah termasuk gangguan ginjal akut, meskipun angka 1,3 sering dianggap "hanya sedikit di atas normal".

Derajat keparahan

Stadium

Kreatinin serum

Volume urin

1

1,5–1,9 kali nilai dasar, atau naik ≥ 0,3 mg/dL

< 0,5 mL/kg/jam selama 6–12 jam

2

2,0–2,9 kali nilai dasar

< 0,5 mL/kg/jam selama ≥ 12 jam

3

≥ 3 kali nilai dasar, atau kreatinin ≥ 4,0 mg/dL, atau mulai menjalani terapi pengganti ginjal (dialisis)

< 0,3 mL/kg/jam selama ≥ 24 jam, atau tidak ada urin sama sekali (anuria) selama ≥ 12 jam

Stadium yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Dalam studi multinasional AKI-EPI di ICU, risiko kematian pada stadium 3 hampir tujuh kali lipat dibanding pasien tanpa gangguan ginjal akut.


Keterbatasan kreatinin

Kreatinin adalah penanda yang murah dan tersedia di mana-mana, tetapi ia terlambat. Kadarnya baru naik setelah fungsi ginjal hilang cukup banyak, dan kenaikannya tertinggal sekitar 24–48 jam dari saat cedera terjadi. Kadar kreatinin juga dipengaruhi massa otot. Pada lansia kurus atau pasien yang lama terbaring, kreatinin bisa tampak "normal" padahal fungsi ginjalnya sudah turun.

Karena diagnosis bergantung pada perubahan dari nilai dasar, hasil laboratorium lama sangat berharga. Simpan hasil pemeriksaan kreatinin Anda dan bawa saat berobat.


Yang sedang berubah: draf panduan KDIGO 2026

Pada Maret 2026, KDIGO merilis draf panduan baru untuk gangguan ginjal akut dan penyakit ginjal akut, pembaruan besar pertama sejak 2012. Saat artikel ini ditulis, draf tersebut sudah melewati masa tinjauan publik tetapi versi finalnya belum terbit. Beberapa perubahan yang diusulkan:

  • Kenaikan cystatin C ≥ 1,5 kali nilai dasar dalam 7 hari ditambahkan sebagai kriteria fungsional, di samping kreatinin dan volume urin

  • Biomarker kerusakan ginjal (misalnya TIMP-2×IGFBP7, NGAL, dan KIM-1) diakui sebagai kriteria struktural. Biomarker ini dapat meningkat sebelum kreatinin naik, keadaan yang selama ini disebut "AKI subklinis"

  • Kerangka yang lebih utuh untuk penyakit ginjal akut, serta anjuran menilai ulang fungsi ginjal sekitar 3 bulan setelah episode gangguan ginjal akut

Draf tersebut sendiri menegaskan keterbatasan kreatinin: hampir separuh fungsi ginjal dapat hilang sebelum kreatinin naik. Sebagian besar biomarker baru ini belum tersedia luas di Indonesia, sehingga dalam praktik sehari-hari kreatinin dan jumlah urin tetap menjadi andalan.


Tiga kelompok besar penyebab

Bayangkan ginjal sebagai instalasi penjernihan air. Instalasi itu bisa berhenti bekerja karena tiga alasan: pasokan airnya berkurang, saringan di dalamnya rusak, atau saluran pembuangannya tersumbat. Dokter membagi penyebab gangguan ginjal akut dengan cara yang sama:

Kelompok

Masalah utama

Contoh

Bila cepat ditangani

Prarenal (sebelum ginjal)

Aliran darah ke ginjal berkurang; jaringan ginjal masih utuh

Diare, muntah, perdarahan, syok, gagal jantung, sirosis, obat antinyeri NSAID

Umumnya pulih dalam 1–3 hari setelah aliran darah diperbaiki

Renal atau intrinsik (di dalam ginjal)

Jaringan ginjal sendiri rusak

Sepsis, syok berkepanjangan, obat dan racun, leptospirosis, radang glomerulus, reaksi alergi obat

Pemulihan butuh hari hingga minggu; sebagian tidak pulih sempurna

Pascarenal (setelah ginjal)

Aliran urin tersumbat

Pembesaran prostat, batu saluran kemih, tumor panggul seperti kanker serviks

Sering pulih bila sumbatan segera dibuka

Dalam praktik, penyebabnya sering lebih dari satu. Contoh yang sangat umum: lansia penderita hipertensi yang diare (prarenal), tetap minum obat antinyeri (prarenal), lalu mengalami infeksi (renal). Masing-masing mungkin tidak cukup untuk merusak ginjal, tetapi gabungannya bisa.


Penyebab prarenal: aliran darah ke ginjal berkurang

Ini kelompok penyebab yang paling sering, terutama pada gangguan ginjal akut yang terjadi di luar rumah sakit. Ginjal masih sehat, tetapi tidak mendapat cukup darah untuk disaring.

Kekurangan cairan dan darah

  • Diare dan muntah, penyebab klasik pada anak dan lansia

  • Kurang minum, misalnya pada lansia yang rasa hausnya menurun, orang yang sulit menelan, atau pasien demam yang tidak bisa makan dan minum

  • Keringat berlebihan saat bekerja atau berolahraga berat di cuaca panas

  • Diuretik (obat pelancar kencing) yang dosisnya terlalu besar untuk kondisi saat itu

  • Gula darah sangat tinggi, yang membuat tubuh kehilangan banyak cairan lewat urin

  • Perdarahan: kecelakaan, perdarahan saluran cerna, perdarahan saat persalinan

  • Luka bakar luas

Volume darah cukup, tetapi tidak sampai ke ginjal

  • Gagal jantung: pompa jantung yang lemah tidak mampu mengalirkan darah yang cukup ke ginjal (sindrom kardiorenal)

  • Sirosis hati lanjut: pembuluh darah ginjal menyempit hebat (sindrom hepatorenal)

  • Sepsis tahap awal: pembuluh darah di seluruh tubuh melebar sehingga tekanan darah turun

  • Penyempitan arteri ginjal, terutama bila kedua sisi terkena

Obat yang mengubah aliran darah di dalam ginjal

Ginjal punya mekanisme pengaman untuk menjaga tekanan penyaringan tetap stabil. Saat aliran darah berkurang, pembuluh yang masuk ke saringan ginjal (glomerulus) melebar dengan bantuan zat bernama prostaglandin, sedangkan pembuluh yang keluar menyempit dengan bantuan angiotensin II. Beberapa obat yang sangat sering dipakai justru melemahkan pengaman ini:

  • Obat antinyeri golongan NSAID (asam mefenamat, natrium diklofenak, ibuprofen, piroksikam, meloksikam, naproksen) menghambat prostaglandin, sehingga pembuluh yang masuk tidak bisa melebar

  • ACE inhibitor dan ARB (misalnya captopril, ramipril, candesartan, valsartan) menghambat angiotensin II, sehingga pembuluh yang keluar tidak bisa menyempit

  • Diuretik mengurangi volume cairan

  • Obat imunosupresan golongan penghambat kalsineurin (siklosporin, takrolimus) pada penerima transplantasi menyempitkan pembuluh ginjal

Gabungan NSAID, ACE inhibitor atau ARB, dan diuretik dikenal sebagai triple whammy. Studi kasus-kontrol besar di Inggris (Lapi dkk., BMJ 2013) menemukan kombinasi ketiganya meningkatkan risiko gangguan ginjal akut sekitar 31%, dan 82% pada 30 hari pertama pemakaian bersama.

Perlu ditegaskan: ini bukan berarti ACE inhibitor dan ARB merusak ginjal. Dalam jangka panjang, keduanya justru melindungi ginjal, terutama bila ada kebocoran protein di urin. Masalahnya muncul ketika tubuh sedang kekurangan cairan, misalnya saat diare atau muntah, apalagi bila ditambah obat antinyeri. Pembahasan lengkapnya ada di artikel Jenis-Jenis Obat Hipertensi: Manfaat, Indikasi, dan Efek Sampingnya.

Mengapa kelompok ini penting

Gangguan ginjal akut prarenal sepenuhnya dapat pulih bila aliran darah segera diperbaiki, misalnya dengan cairan atau dengan menghentikan sementara obat pemicunya. Namun bila dibiarkan berlarut-larut, sel-sel ginjal yang kekurangan oksigen akan mati, dan masalahnya berubah menjadi kerusakan jaringan ginjal (penyebab renal) yang pemulihannya jauh lebih lama.


Penyebab renal: jaringan ginjal sendiri rusak

Pada kelompok ini, kerusakan terjadi pada jaringan ginjal itu sendiri. Berdasarkan bagian ginjal yang terkena, penyebabnya dibagi menjadi empat.

1. Kerusakan tubulus (nekrosis tubular akut)

Tubulus adalah saluran-saluran halus yang mengolah hasil saringan menjadi urin. Bagian ini sangat "rakus" oksigen dan paling sering terpapar obat serta racun, sehingga paling mudah rusak. Nekrosis tubular akut adalah bentuk kerusakan jaringan ginjal yang paling sering, terutama pada pasien rawat inap.

Kekurangan aliran darah yang berkepanjangan: syok yang lama, operasi besar (terutama operasi jantung dan pembuluh darah besar), henti jantung, dan kelanjutan dari kondisi prarenal yang tidak segera diatasi.

Sepsis, yaitu infeksi berat yang memicu reaksi berlebihan di seluruh tubuh. Sepsis adalah penyebab tersering gangguan ginjal akut di ICU. Dalam penelitian di ICU RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, 55% kasus gangguan ginjal akut disebabkan oleh sepsis. Sepsis merusak ginjal lewat banyak jalur sekaligus: tekanan darah rendah, peradangan, gangguan pembuluh darah kecil, dan efek obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengatasinya.

Obat yang bersifat racun bagi ginjal (nefrotoksik), antara lain:

Obat

Keterangan

Antibiotik aminoglikosida (gentamisin, amikasin)

Kerusakan biasanya muncul setelah 5–7 hari pemakaian; sering tanpa penurunan jumlah urin

Vankomisin

Risiko meningkat pada kadar tinggi dan bila dikombinasi obat nefrotoksik lain

Kolistin/polimiksin

Dipakai untuk kuman kebal antibiotik; sangat nefrotoksik

Amfoterisin B

Antijamur untuk infeksi jamur berat

Kemoterapi, terutama cisplatin dan metotreksat dosis tinggi

Dosis dan hidrasi diatur ketat oleh dokter onkologi

Tenofovir disoproksil

Antivirus HIV dan hepatitis B; pemantauan fungsi ginjal diperlukan

Zat kontras

Lihat penjelasan di bawah

Zat kontras untuk CT scan dan kateterisasi jantung sejak lama dianggap penyebab penting gangguan ginjal akut. Penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa untuk kontras yang disuntikkan lewat pembuluh darah vena, risikonya jauh lebih kecil dari perkiraan dahulu dan terutama bermakna pada orang dengan fungsi ginjal yang sudah sangat rendah (eGFR < 30). Konsensus American College of Radiology dan National Kidney Foundation (2020) menganjurkan pencegahan dengan cairan infus terutama pada kelompok ini. Kontras yang disuntikkan langsung ke arteri, misalnya saat kateterisasi jantung, memiliki pertimbangan risiko tersendiri. Pemeriksaan yang memang dibutuhkan tidak perlu ditunda hanya karena takut kontras; yang penting dokter mengetahui kondisi ginjal Anda.

Pigmen dari otot atau sel darah merah yang hancur:

  • Rabdomiolisis, yaitu kerusakan otot yang melepaskan mioglobin ke dalam darah. Penyebabnya antara lain otot tertimpa atau terjepit (crush injury) saat gempa atau kecelakaan, olahraga atau latihan fisik yang sangat berat, sengatan panas (heat stroke), kejang lama, sengatan tawon atau lebah dalam jumlah banyak, dan sebagian obat. Tanda khasnya: nyeri dan lemah otot disertai urin berwarna gelap seperti teh atau kola.

  • Hemolisis, yaitu pecahnya sel darah merah, misalnya pada malaria berat, defisiensi enzim G6PD yang terpapar obat atau makanan tertentu, atau reaksi transfusi.

Racun dan zat kimia: etilen glikol dan dietilen glikol (penyebab kasus pada anak tahun 2022, dibahas di bawah), bisa ular, pestisida seperti parakuat, dan logam berat.

Kristal yang mengendap di tubulus: asiklovir dosis tinggi lewat infus, metotreksat, asam urat pada sindrom lisis tumor (saat sel kanker hancur massal di awal kemoterapi), dan oksalat. Kristal oksalat dapat terbentuk setelah minum jus belimbing wuluh atau belimbing pekat dalam jumlah banyak, yang kadang dikonsumsi sebagai pengobatan alternatif. Laporan kasus gangguan ginjal akut akibat hal ini sudah berulang kali dipublikasikan dari negara-negara Asia.

Protein abnormal pada mieloma multipel, sejenis kanker sel plasma pada usia lanjut, yang dapat menyumbat tubulus.

2. Radang jaringan di sekitar tubulus (nefritis interstisial akut)

Ini adalah reaksi alergi atau peradangan di jaringan penyangga ginjal. Penyebab tersering adalah obat, dan yang sering tidak disangka:

  • Antibiotik: golongan penisilin, sefalosporin, dan rifampisin (obat TBC), terutama bila pernah terhenti lalu dimulai kembali

  • Obat lambung golongan penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazol, lansoprazol, dan esomeprazol, yang sering dipakai jangka panjang tanpa evaluasi

  • NSAID

  • Alopurinol (obat asam urat)

  • Imunoterapi kanker generasi baru (immune checkpoint inhibitor)

Reaksi ini bisa muncul beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah obat dimulai. Gejala alergi klasik berupa demam, ruam kulit, dan peningkatan eosinofil hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien, sehingga diagnosisnya sering terlambat. Selain obat, nefritis interstisial juga dapat dipicu oleh infeksi (termasuk leptospirosis) dan penyakit autoimun.

3. Radang saringan ginjal (glomerulonefritis)

Glomerulus adalah saringan ginjal. Peradangan hebat pada glomerulus dapat merusak fungsi ginjal dalam hitungan hari hingga minggu, keadaan yang disebut glomerulonefritis progresif cepat. Penyebabnya antara lain:

  • Glomerulonefritis pascainfeksi, klasik pada anak, muncul 1–3 minggu setelah radang tenggorokan atau 3–6 minggu setelah infeksi kulit oleh kuman streptokokus (misalnya impetigo atau kudis yang terinfeksi)

  • Nefritis lupus, terutama pada perempuan muda

  • Vaskulitis (peradangan pembuluh darah kecil) seperti vaskulitis ANCA, yang kadang disertai batuk darah

  • Nefropati IgA dan penyakit glomerulus lain

Tanda yang mengarah ke penyebab ini: urin berwarna merah kecokelatan seperti teh atau kola, urin berbuih, bengkak di kelopak mata dan tungkai, serta tekanan darah yang mendadak tinggi. Kelompok ini memerlukan evaluasi cepat oleh dokter spesialis ginjal, sering termasuk biopsi ginjal, karena setiap hari keterlambatan dapat berarti nefron yang hilang permanen. Kabar baiknya, banyak di antaranya dapat diobati.

4. Gangguan pembuluh darah ginjal

  • Hipertensi maligna, yaitu tekanan darah yang sangat tinggi disertai kerusakan organ. Pembahasannya ada di artikel Dampak Hipertensi yang Tidak Terkendali

  • Mikroangiopati trombotik, yaitu terbentuknya bekuan-bekuan kecil di pembuluh darah ginjal disertai pecahnya sel darah merah dan turunnya trombosit. Contohnya sindrom hemolitik uremik (misalnya setelah diare berdarah), TTP, dan komplikasi kehamilan seperti preeklampsia berat dan sindrom HELLP

  • Emboli kolesterol, serpihan plak yang terlepas setelah kateterisasi atau operasi pembuluh darah pada orang dengan aterosklerosis berat. Kerusakan ginjalnya dapat muncul beberapa hari hingga minggu setelah tindakan, kadang disertai jari kaki yang kebiruan

  • Sumbatan arteri atau vena ginjal oleh bekuan darah, misalnya pada gangguan irama jantung fibrilasi atrium


Penyebab pascarenal: aliran urin tersumbat

Bila aliran urin tersumbat, tekanan di dalam ginjal meningkat dan proses penyaringan terhenti. Agar terjadi gangguan ginjal akut, sumbatan umumnya harus mengenai kedua ginjal, atau mengenai satu-satunya ginjal yang berfungsi (misalnya pada orang yang hanya memiliki satu ginjal, termasuk donor dan penerima transplantasi ginjal).

Penyebab yang sering:

  • Pembesaran prostat jinak maupun kanker prostat, penyebab tersering pada pria usia lanjut

  • Batu saluran kemih di kedua sisi, atau di sisi satu-satunya ginjal

  • Kanker serviks dan tumor panggul lain yang menekan kedua ureter. Di Indonesia, kanker serviks stadium lanjut adalah penyebab penting sumbatan ini pada perempuan

  • Kandung kemih neurogenik, yaitu kandung kemih yang tidak bisa berkontraksi dengan baik akibat diabetes lama, stroke, atau cedera saraf tulang belakang

  • Obat yang menyebabkan urin tertahan pada pria dengan pembesaran prostat: antihistamin generasi lama dan obat flu kombinasi, obat antikolinergik, antidepresan trisiklik, dan opioid

  • Kateter urin yang tersumbat atau tertekuk

Gejalanya bisa berupa tidak bisa buang air kecil sama sekali disertai perut bawah yang penuh dan nyeri, nyeri pinggang, atau justru pola urin yang berganti-ganti antara sangat sedikit dan sangat banyak. Namun sumbatan yang terjadi perlahan sering tidak terasa sama sekali.

Kelompok ini penting karena pemeriksaannya sederhana (USG ginjal dan kandung kemih) dan penanganannya sering langsung memulihkan fungsi ginjal, misalnya dengan memasang kateter atau selang drainase. Karena itu, pada pria lanjut usia yang mendadak tidak buang air kecil, hal pertama yang diperiksa dokter biasanya adalah apakah kandung kemihnya penuh.


Penyebab yang khas di Indonesia dan negara tropis

Di negara maju, gangguan ginjal akut paling sering terjadi di rumah sakit, pada pasien lanjut usia dengan banyak penyakit penyerta, setelah operasi besar atau selama perawatan di ICU. Di negara tropis berpenghasilan rendah dan menengah, polanya berbeda: banyak kasus bermula di masyarakat, menimpa orang yang lebih muda termasuk anak-anak, dan sering disebabkan hal yang sebenarnya dapat dicegah.

Diare dan dehidrasi. Masih menjadi penyebab penting pada anak dan lansia, terutama bila cairan pengganti tidak segera diberikan.

Leptospirosis ("penyakit kencing tikus"). Kuman Leptospira masuk lewat kulit yang lecet atau selaput lendir saat bersentuhan dengan air atau lumpur yang tercemar urin tikus, misalnya saat banjir, bertani di sawah, atau membersihkan selokan. Gejalanya demam tinggi mendadak, nyeri betis yang hebat, mata merah, dan pada kasus berat, kulit dan mata menguning. Tinjauan sistematis tahun 2025 menemukan sekitar separuh (49%) pasien leptospirosis mengalami gangguan ginjal akut, dan angka kematian pada kelompok ini lebih tinggi. Yang perlu diketahui, gangguan ginjal akut pada leptospirosis sering tidak disertai penurunan jumlah urin (hanya sekitar sepertiga yang urinnya berkurang) dan khas disertai kalium darah yang justru rendah.

Demam berdarah dengue berat. Gangguan ginjal akut dapat terjadi melalui syok, kerusakan otot, dan efek langsung virus. Inilah salah satu alasan penderita demam berdarah dianjurkan memakai parasetamol, bukan obat antinyeri golongan NSAID.

Malaria berat, terutama akibat Plasmodium falciparum yang masih endemis di wilayah timur Indonesia. Gangguan ginjal akut adalah salah satu tanda malaria berat, terjadi akibat pecahnya sel darah merah dan tersumbatnya pembuluh darah kecil.

Sepsis dan infeksi berat lain, seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih berat.

Gigitan ular berbisa dan sengatan tawon. Bisa ular tertentu, terutama dari kelompok viper, dapat merusak ginjal lewat gangguan pembekuan darah, pecahnya sel darah merah, kerusakan otot, atau efek langsung pada ginjal. Sengatan tawon atau lebah dalam jumlah banyak dapat menyebabkan hal serupa.

Komplikasi kehamilan dan persalinan: preeklampsia dan eklampsia, sindrom HELLP, perdarahan hebat saat atau setelah persalinan, dan infeksi berat, termasuk setelah aborsi yang tidak aman.

Panas ekstrem dan kerja fisik berat. Pekerja lapangan, atlet, peserta latihan fisik yang berat, dan jemaah haji saat cuaca sangat panas berisiko mengalami dehidrasi berat, sengatan panas, dan rabdomiolisis.

Obat bahan alam ilegal yang dicampur bahan kimia obat (BKO). Pada Februari 2026, BPOM melaporkan temuan 41 produk obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat selama November–Desember 2025. Produk dengan klaim "pegal linu" dan antinyeri antara lain mengandung naproksen, ibuprofen, parasetamol, dan deksametason, sedangkan produk lain mengandung sildenafil, sibutramin, hingga glibenklamid. BPOM mengingatkan bahwa produk semacam ini dapat merusak hati dan ginjal. Artinya, seseorang yang merasa "hanya minum jamu" bisa saja menelan obat golongan NSAID setiap hari tanpa sadar, dan tanpa takaran yang jelas.


Pelajaran dari kasus gangguan ginjal akut pada anak tahun 2022

Pada paruh kedua 2022, Indonesia menghadapi lonjakan kasus gangguan ginjal akut pada anak, sebagian besar balita, yang kemudian disebut gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA). Anak-anak datang dalam keadaan tidak buang air kecil sama sekali, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Hingga 5 Februari 2023, Kementerian Kesehatan mencatat 326 kasus di 27 provinsi, dengan 204 anak meninggal dunia.

Investigasi menemukan penyebabnya: cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada sejumlah produk obat sirop, yang berasal dari bahan pelarut yang tidak memenuhi syarat. Menurut WHO, 42,2% sampel obat dan 60,3% sampel plasma darah pasien yang diperiksa positif mengandung EG/DEG. BPOM kemudian memerintahkan penghentian produksi, penarikan, dan pemusnahan produk dari perusahaan yang terlibat.

Pengobatan kunci pada keracunan ini adalah penawar racun (antidot) fomepizol, yang saat itu didatangkan dari luar negeri. Laporan dari RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (BMC Pediatrics, 2025) terhadap 19 anak dengan usia median 21 bulan menunjukkan seluruhnya datang dalam keadaan anuria, dengan median 3 hari tidak buang air kecil sebelum tiba di rumah sakit. Para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian fomepizol yang cepat menurunkan kesakitan dan kematian.

Beberapa pelajaran yang tetap relevan:

  • Masalahnya adalah produk yang tercemar, bukan bentuk sirop atau parasetamol itu sendiri. Gunakan obat yang terdaftar di BPOM, dibeli dari apotek atau fasilitas kesehatan resmi, dengan dosis dan sendok takar yang sesuai.

  • Jumlah urin anak adalah tanda vital. Waspadai bila anak jauh lebih jarang buang air kecil daripada biasanya, popoknya tetap kering selama berjam-jam, atau urinnya sangat sedikit dan pekat, terutama saat sedang sakit. Segera bawa ke fasilitas kesehatan.

  • Waktu sangat menentukan. Semakin cepat penyebab ditemukan dan diatasi, semakin besar peluang ginjal pulih.


Siapa yang paling berisiko

Gangguan ginjal akut bisa menimpa siapa saja, tetapi risikonya jauh lebih tinggi pada:

  • Lansia, karena cadangan fungsi ginjal menurun dan rasa haus berkurang

  • Penderita penyakit ginjal kronik, faktor risiko terkuat

  • Penderita diabetes, hipertensi, gagal jantung, dan penyakit hati kronik

  • Pengguna obat ACE inhibitor/ARB, diuretik, dan obat antinyeri NSAID, terutama bila dipakai bersamaan

  • Pasien dengan infeksi berat atau sepsis

  • Pasien yang menjalani operasi besar, terutama operasi jantung dan pembuluh darah besar

  • Pasien ICU dan pasien yang mendapat beberapa obat nefrotoksik sekaligus

  • Anak-anak saat diare atau muntah, karena lebih cepat mengalami dehidrasi

  • Ibu hamil dengan preeklampsia

  • Penderita kanker, terutama saat menjalani kemoterapi

  • Orang yang pernah mengalami gangguan ginjal akut sebelumnya

Seperti pada hipertensi, faktor-faktor ini saling memperberat. Lansia dengan penyakit ginjal kronik yang minum obat darah tinggi dan diuretik, lalu diare dan meminum obat pegal linu, berada pada risiko yang sangat tinggi.


Gejala dan kapan harus ke IGD

Gangguan ginjal akut sering tidak menimbulkan gejala, terutama pada tahap awal, dan baru ketahuan dari pemeriksaan darah. Satu hal yang perlu diingat: jumlah urin tidak selalu berkurang. Pada sebagian penyebab, seperti leptospirosis dan kerusakan akibat antibiotik aminoglikosida, urin tetap keluar dalam jumlah normal meskipun fungsi penyaringan ginjal sudah turun jauh.

Bila ada gejala, bentuknya bisa berupa:

  • Jumlah urin berkurang atau tidak ada sama sekali

  • Bengkak di tungkai, pergelangan kaki, atau kelopak mata

  • Sesak napas akibat cairan menumpuk di paru

  • Mual, muntah, dan hilang nafsu makan

  • Lemas dan mudah lelah

  • Bingung, mengantuk, atau sulit berkonsentrasi

  • Jantung berdebar atau denyut tidak teratur, tanda kemungkinan kalium tinggi

  • Urin berubah warna: gelap seperti teh atau kola, kemerahan, atau berbuih

Segera ke IGD bila:

Keadaan

Tanda yang perlu diwaspadai

Urin sangat berkurang

Tidak buang air kecil sama sekali atau hanya sangat sedikit selama setengah hari, padahal sudah minum; pada anak, popok tetap kering berjam-jam

Dehidrasi berat

Diare atau muntah terus-menerus, sangat haus, mulut kering, pusing atau hampir pingsan saat berdiri; anak lesu dan tidak mau minum

Kelebihan cairan

Sesak napas, tidak bisa berbaring datar, bengkak yang cepat bertambah

Gangguan kesadaran

Bingung, sangat mengantuk, kejang

Gangguan jantung

Berdebar, denyut tidak teratur, nyeri dada, lemas berat

Urin gelap

Urin seperti teh atau kola setelah olahraga berat, cedera otot, sengatan tawon, gigitan ular, atau disertai demam

Setelah terpapar banjir

Demam tinggi mendadak, nyeri betis hebat, mata merah atau menguning

Pemeriksaan yang biasanya dilakukan

Pemeriksaan

Tujuan

Kreatinin dan ureum, diulang berkala

Menegakkan diagnosis dan melihat arah perkembangannya

Elektrolit (natrium, kalium) dan analisis gas darah

Mendeteksi kalium tinggi dan asidosis, dua keadaan yang dapat mengancam nyawa

Pengukuran jumlah urin

Menilai derajat keparahan; di rumah sakit kadang memakai kateter

Urinalisis dan pemeriksaan sedimen urin di mikroskop

Petunjuk penyebab: silinder granular mengarah ke kerusakan tubulus, sel darah merah dengan bentuk abnormal mengarah ke radang glomerulus, sel darah putih mengarah ke infeksi atau nefritis interstisial, dan kristal

USG ginjal dan kandung kemih

Mencari sumbatan dan menilai ukuran ginjal, yang membantu membedakan gangguan akut dari kronik

Darah lengkap

Anemia, infeksi, trombosit rendah (misalnya pada dengue, leptospirosis, malaria, atau mikroangiopati trombotik)

Pemeriksaan sesuai kecurigaan

CK untuk kerusakan otot, tes leptospirosis, dengue, atau malaria, pemeriksaan autoimun, kadar obat dalam darah, dan lain-lain

Biopsi ginjal

Bila dicurigai radang glomerulus atau nefritis interstisial, atau penyebabnya belum jelas

Satu "pemeriksaan" yang sering paling menentukan justru yang paling sederhana: riwayat obat. Bawa semua obat yang Anda minum, termasuk obat bebas, suplemen, jamu, dan obat herbal, saat berobat.


Prinsip penanganan

Hingga kini belum ada obat yang secara langsung "menyembuhkan" ginjal yang cedera. Penanganan gangguan ginjal akut bertumpu pada dua hal: mengatasi penyebabnya, dan menjaga tubuh tetap stabil sampai ginjal pulih.

  1. Memperbaiki aliran darah ke ginjal: cairan infus bila kekurangan cairan atau darah, dan obat penaik tekanan darah pada syok. Pemberian cairan harus terukur, karena cairan yang berlebihan justru memperburuk keadaan.

  2. Menghentikan atau menyesuaikan obat: obat nefrotoksik dihentikan bila memungkinkan, obat seperti ACE inhibitor/ARB dan diuretik dapat dihentikan sementara, dan dosis obat yang dibuang lewat ginjal disesuaikan.

  3. Membuka sumbatan: kateter urin, atau selang yang dipasang langsung ke ginjal (nefrostomi).

  4. Mengobati penyakit dasar: antibiotik untuk sepsis dan leptospirosis, obat penekan kekebalan untuk radang glomerulus tertentu, antidot pada keracunan, serum antibisa pada gigitan ular.

  5. Mengatasi komplikasi: kalium yang tinggi, asidosis, kelebihan cairan, serta menjaga asupan nutrisi. Diuretik seperti furosemid dapat membantu mengeluarkan cairan berlebih, tetapi tidak mempercepat pemulihan ginjal.

  6. Dialisis (cuci darah) bila diperlukan, misalnya pada kalium tinggi yang tidak teratasi dengan obat, asidosis berat, cairan menumpuk di paru yang tidak respons terhadap diuretik, komplikasi racun uremik seperti penurunan kesadaran, atau keracunan zat tertentu yang dapat dibuang lewat dialisis.

Pada gangguan ginjal akut, dialisis sering bersifat sementara, menjadi "jembatan" sampai ginjal pulih. Dalam penelitian di ICU Jakarta tersebut, sekitar seperempat (24,6%) pasien gangguan ginjal akut memerlukan dialisis.

Baca juga: Hemodialisis.


Apakah ginjal bisa pulih sepenuhnya?

Banyak pasien pulih, terutama bila penyebabnya prarenal atau sumbatan dan cepat diatasi. Sel-sel tubulus memiliki kemampuan beregenerasi, sehingga kerusakan tubulus umumnya membaik dalam satu hingga beberapa minggu. Pada masa pemulihan, kadang terjadi fase poliuria, yaitu urin keluar sangat banyak. Fase ini tetap perlu diawasi karena tubuh bisa kehilangan cairan dan elektrolit dengan cepat.

Namun pemulihan tidak selalu sempurna, dan gangguan ginjal akut meninggalkan jejak jangka panjang:

  • Dalam studi AKI-EPI, saat pulang dari rumah sakit 47,7% pasien yang mengalami gangguan ginjal akut memiliki eGFR < 60, dibanding 14,8% pada pasien tanpa gangguan ginjal akut.

  • Meta-analisis tahun 2025 (Nephrology Dialysis Transplantation) terhadap 70 studi dengan lebih dari 1,8 juta partisipan menemukan bahwa setelah gangguan ginjal akut, risiko penyakit ginjal kronik sekitar 2,4 kali dan risiko gagal ginjal sekitar 2,6 kali lebih tinggi dibanding orang yang tidak pernah mengalaminya.

  • Bahkan episode paling ringan, yaitu stadium 1 yang pulih dalam kurang dari 3 hari, masih berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronik sekitar 1,5 kali lebih tinggi.

Karena itu, gangguan ginjal akut sebaiknya tidak dianggap "selesai" begitu pasien pulang dari rumah sakit. Setelah mengalami gangguan ginjal akut:

  • Kontrol dan periksa fungsi ginjal, yaitu kreatinin/eGFR dan rasio albumin-kreatinin urin (UACR). Draf panduan KDIGO 2026 menganjurkan penilaian sekitar 3 bulan setelah episode, atau lebih cepat sesuai kondisi.

  • Tinjau ulang semua obat bersama dokter, termasuk kapan obat yang dihentikan sementara (misalnya ACE inhibitor/ARB) dapat dimulai kembali. Draf KDIGO 2026 menganjurkan memulai kembali obat golongan ini bila memang ada indikasinya dan tidak ada kontraindikasi.

  • Beri tahu setiap dokter bahwa Anda pernah mengalami gangguan ginjal akut, termasuk sebelum operasi atau pemeriksaan dengan kontras.

  • Hindari obat antinyeri NSAID dan jamu yang tidak terdaftar.

  • Kendalikan tekanan darah dan gula darah.


Mitos yang masih sering dipercaya

"Buang air kecil saya lancar, jadi ginjal saya pasti baik-baik saja." Tidak selalu. Pada banyak kasus gangguan ginjal akut, termasuk leptospirosis dan kerusakan akibat obat, jumlah urin tetap normal. Fungsi ginjal hanya dapat dinilai lewat pemeriksaan darah dan urin.

"Gagal ginjal akut berarti harus cuci darah seumur hidup." Keliru. Sebagian besar pasien gangguan ginjal akut tidak memerlukan dialisis. Pada yang memerlukannya, dialisis sering hanya sementara sampai ginjal pulih.

"Minum air sebanyak-banyaknya pasti melindungi ginjal." Cairan tambahan hanya bermanfaat bila tubuh memang kekurangan cairan. Pada ginjal yang sudah tidak mampu mengeluarkan urin, minum berlebihan justru menumpuk di tungkai dan paru serta menurunkan kadar natrium darah. Ikuti anjuran dokter mengenai jumlah cairan.

"Obat antinyeri yang dijual bebas pasti aman." Obat antinyeri golongan NSAID dijual bebas, tetapi dapat memicu gangguan ginjal akut, terutama pada lansia, saat dehidrasi, pada penyakit ginjal atau gagal jantung, dan bila dikombinasi obat hipertensi tertentu dan diuretik.

"Jamu dan herbal pasti aman karena alami." Tidak ada jaminan. Sebagian produk ilegal mengandung obat kimia seperti NSAID dan steroid tanpa takaran yang jelas, dan beberapa bahan alami, seperti jus belimbing pekat dalam jumlah banyak, dapat merusak ginjal.

"Kreatinin sudah kembali normal, berarti ginjal sudah sembuh total." Kreatinin bukan penanda yang peka. Ginjal bisa kehilangan sebagian cadangan fungsinya tanpa kreatinin berubah banyak. Risiko penyakit ginjal kronik tetap meningkat, sehingga kontrol lanjutan tetap diperlukan.

"Obat sirop menyebabkan gagal ginjal pada anak." Kasus tahun 2022 disebabkan oleh cemaran etilen glikol dan dietilen glikol pada produk tertentu, bukan oleh bentuk sirop atau zat aktif obatnya. Obat yang terdaftar dan dipakai sesuai dosis tetap dibutuhkan saat anak sakit.

"Obat darah tinggi merusak ginjal." Hipertensi yang tidak terkendali jauh lebih merusak ginjal daripada obatnya. ACE inhibitor dan ARB justru melindungi ginjal dalam jangka panjang. Yang perlu diwaspadai adalah pemakaiannya saat tubuh kekurangan cairan, dan itu dapat dibicarakan dengan dokter sejak awal.


Langkah pencegahan

  1. Atasi dehidrasi sejak dini. Saat diare atau muntah, segera berikan oralit sedikit-sedikit tetapi sering, terutama pada anak dan lansia. Bila tidak bisa minum atau tanda dehidrasi memberat, segera ke fasilitas kesehatan.

  2. Bijak memakai obat antinyeri. Hindari atau batasi NSAID bila Anda lansia, memiliki penyakit ginjal, gagal jantung, atau sirosis, serta bila sedang minum ACE inhibitor/ARB dan diuretik. Tanyakan kepada dokter atau apoteker pilihan antinyeri yang lebih aman untuk Anda.

  3. Buat "rencana hari sakit" bersama dokter. Bila Anda rutin minum obat hipertensi, diuretik, atau obat diabetes, tanyakan sejak awal apa yang harus dilakukan dengan obat-obat tersebut bila suatu saat Anda diare, muntah, atau tidak bisa makan dan minum.

  4. Beri tahu dokter tentang kondisi ginjal Anda sebelum operasi, pemeriksaan dengan kontras, atau saat diresepkan obat baru.

  5. Gunakan obat dan obat bahan alam yang terdaftar. Periksa nomor izin edarnya lewat laman atau aplikasi Cek BPOM, dan beli dari apotek atau fasilitas kesehatan resmi.

  6. Lindungi diri dari leptospirosis. Gunakan sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan rumah setelah banjir, bekerja di sawah, atau membersihkan selokan. Bila demam setelah terpapar banjir, sampaikan riwayat ini kepada dokter.

  7. Waspadai panas dan kerja fisik berat. Minum cukup, beristirahat di tempat teduh, dan jangan memaksakan latihan fisik berlebihan. Urin gelap seperti teh setelah aktivitas berat adalah alasan untuk segera memeriksakan diri.

  8. Perhatikan jumlah urin anak saat sakit. Anak yang jauh lebih jarang buang air kecil atau popoknya kering berjam-jam perlu segera diperiksa.

  9. Kendalikan penyakit kronik seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal kronik, serta periksa kreatinin/eGFR dan UACR secara berkala sesuai anjuran dokter.

  10. Jangan abaikan kontrol setelah gangguan ginjal akut. Pemeriksaan ulang fungsi ginjal beberapa bulan kemudian membantu mendeteksi penyakit ginjal kronik sejak dini.


Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya gagal ginjal akut dan gangguan ginjal akut? Pada dasarnya merujuk pada kondisi yang sama. "Gangguan ginjal akut" (acute kidney injury) adalah istilah yang lebih baru dan lebih luas, mencakup kasus ringan hingga berat. "Gagal ginjal akut" menggambarkan ujung yang paling berat.

Apakah gangguan ginjal akut bisa sembuh total? Bisa, terutama bila penyebabnya cepat diatasi, seperti dehidrasi atau sumbatan saluran kemih. Namun sebagian pasien tidak pulih sempurna, dan risiko penyakit ginjal kronik di kemudian hari tetap lebih tinggi. Karena itu kontrol lanjutan diperlukan.

Berapa lama ginjal pulih? Pada penyebab prarenal, fungsi ginjal biasanya membaik dalam 1–3 hari setelah aliran darah diperbaiki. Pada kerusakan tubulus, pemulihan umumnya berlangsung satu hingga beberapa minggu, kadang lebih lama. Sebagian pasien memerlukan waktu hingga beberapa bulan untuk mencapai fungsi ginjal terbaiknya.

Apakah semua pasien gangguan ginjal akut perlu cuci darah? Tidak. Sebagian besar dapat ditangani tanpa dialisis. Dialisis diperlukan bila ada komplikasi yang tidak teratasi dengan obat, seperti kalium sangat tinggi, asidosis berat, atau cairan berlebih di paru, dan sering hanya bersifat sementara.

Kreatinin saya naik sedikit setelah mulai minum obat hipertensi golongan ACE inhibitor atau ARB. Apakah itu gangguan ginjal akut? Belum tentu. Kenaikan kreatinin hingga sekitar 30% dari nilai awal pada minggu-minggu pertama umumnya merupakan efek yang diharapkan dan dapat diterima. Kenaikan yang lebih besar, atau kenaikan yang terjadi saat Anda sedang diare atau muntah, perlu dievaluasi dokter. Jangan menghentikan obat sendiri.

Obat antinyeri apa yang lebih aman untuk ginjal? Untuk kebanyakan orang dengan risiko ginjal, parasetamol pada dosis yang dianjurkan umumnya lebih aman bagi ginjal daripada NSAID. Parasetamol tetap tidak boleh melebihi dosis harian karena dapat merusak hati. Konsultasikan pilihan terbaik untuk kondisi Anda dengan dokter atau apoteker.

Saya sedang diare dan rutin minum obat hipertensi, diuretik, atau obat diabetes. Apa yang harus dilakukan? Dalam praktik, dokter sering menganjurkan menghentikan sementara beberapa obat, misalnya diuretik, ACE inhibitor/ARB, metformin, penghambat SGLT2, dan NSAID, selama pasien tidak bisa makan dan minum dengan baik, lalu memulainya kembali setelah 24–48 jam makan-minum normal. Namun aturan ini tidak berlaku sama untuk semua orang. Pada penderita gagal jantung, misalnya, menghentikan diuretik dapat menyebabkan penumpukan cairan. Karena itu, mintalah rencana yang spesifik untuk Anda dari dokter, dan segera berobat bila diare atau muntah tidak membaik.

Apakah anak-anak bisa mengalami gangguan ginjal akut? Bisa. Penyebab tersering pada anak adalah dehidrasi akibat diare atau muntah, infeksi berat, glomerulonefritis setelah infeksi tenggorokan atau kulit, dan keracunan. Jumlah urin adalah salah satu tanda terpenting yang dapat dipantau orang tua.

Saya dijadwalkan CT scan dengan kontras. Apakah ginjal saya aman? Pada kebanyakan orang, risikonya kecil. Sampaikan kepada dokter bila Anda memiliki penyakit ginjal, diabetes, atau pernah mengalami gangguan ginjal akut. Dokter dapat memeriksa fungsi ginjal lebih dulu dan memberikan cairan infus pencegahan bila fungsi ginjal Anda sangat rendah. Jangan membatalkan pemeriksaan yang dibutuhkan hanya karena takut kontras.

Saya pernah mengalami gangguan ginjal akut. Apakah saya pasti akan mengalami gagal ginjal kronik? Tidak pasti, tetapi risikonya lebih tinggi. Kontrol fungsi ginjal secara berkala, hindari obat yang merusak ginjal, dan kendalikan tekanan darah serta gula darah untuk menjaga ginjal tetap sehat.


Penutup

Gangguan ginjal akut adalah kondisi yang sering, sering tidak bergejala, dan sering berawal dari hal sehari-hari: diare yang tidak segera diatasi, obat antinyeri yang diminum tanpa pertimbangan, jamu yang ternyata mengandung obat kimia, atau banjir yang membawa kuman leptospira. Di rumah sakit, gangguan ini muncul menyertai infeksi berat, operasi besar, dan perawatan di ICU.

Justru karena penyebabnya begitu beragam, banyak di antaranya dapat dicegah. Kenali siapa yang berisiko, perhatikan jumlah dan warna urin, bijak memakai obat, dan segera berobat saat tanda bahaya muncul. Bila ginjal sempat cedera, jangan berhenti di hari kepulangan dari rumah sakit: kontrol fungsi ginjal beberapa bulan kemudian adalah bagian dari pengobatan.

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan harus dilakukan oleh dokter.

Referensi

Komentar


bottom of page