Transplantasi Ginjal: Siapa yang Bisa, Bagaimana Prosesnya, dan Hidup Setelah Cangkok Ginjal
"Dok, apakah saya bisa cangkok ginjal supaya tidak cuci darah terus?"
Pertanyaan ini sering muncul di ruang praktik, baik dari pasien yang sudah bertahun-tahun menjalani hemodialisis maupun dari yang baru diberi tahu bahwa fungsi ginjalnya tinggal sedikit. Jawabannya: bagi banyak orang, bisa. Transplantasi ginjal adalah pilihan terapi terbaik untuk gagal ginjal tahap akhir pada pasien yang memenuhi syarat.
Namun, transplantasi bukan sekadar satu kali operasi. Ini adalah perjalanan panjang: persiapan berbulan-bulan, operasi, lalu obat dan kontrol seumur hidup. Artikel ini membahas siapa yang cocok menjalani transplantasi, kapan sebaiknya mulai dirujuk, tahapan pemeriksaan, apa yang terjadi saat operasi, mengapa obat imunosupresan tidak boleh terlewat, tanda bahaya yang perlu dikenali, dan seperti apa hidup setelah menerima ginjal baru.
Catatan penting: artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan penilaian tim transplantasi. Setiap pasien memiliki kondisi berbeda, sehingga keputusan transplantasi selalu dibuat bersama dokter.
Ringkasan dalam 60 detik
Transplantasi ginjal adalah pemindahan satu ginjal sehat dari donor ke tubuh pasien gagal ginjal. Di Indonesia, hampir semua donor adalah donor hidup, umumnya anggota keluarga.
Dibanding cuci darah jangka panjang, transplantasi yang berhasil umumnya memberi harapan hidup lebih panjang, kualitas hidup lebih baik, dan kebebasan dari jadwal dialisis.
Rujukan sebaiknya dimulai lebih awal, yaitu saat eGFR di bawah 30 mL/menit/1,73 m² dan masih menurun, idealnya 6–12 bulan sebelum diperkirakan butuh cuci darah. Cek eGFR Anda dengan Kalkulator eGFR.
Obat imunosupresan diminum seumur hidup dan tepat waktu. Lupa atau berhenti minum obat adalah salah satu penyebab utama ginjal cangkok gagal.
Kenaikan kreatinin sekecil apa pun setelah transplantasi harus segera dilaporkan ke tim, karena rejeksi sering muncul tanpa keluhan.
Daftar Isi
Apa itu transplantasi ginjal, dan mengapa sering jadi pilihan terbaik?
Siapa yang cocok, dan kapan sebaiknya mulai dirujuk?
Tahap persiapan: pemeriksaan kecocokan dan evaluasi kesehatan
Hari operasi dan masa pemulihan
Obat imunosupresan: mengapa harus diminum seumur hidup
Tanda bahaya rejeksi dan infeksi
Hidup setelah transplantasi
Pertanyaan yang sering diajukan
1. Apa itu transplantasi ginjal, dan mengapa sering jadi pilihan terbaik?
Transplantasi ginjal (cangkok ginjal) adalah operasi untuk menempatkan satu ginjal sehat dari donor ke dalam tubuh orang yang ginjalnya sudah gagal. Satu ginjal yang sehat sudah cukup untuk menjalankan tugas dua ginjal: menyaring racun, membuang kelebihan cairan dan garam, menjaga keseimbangan kalium dan asam-basa, membantu pembentukan sel darah merah, serta menjaga kesehatan tulang.
Ada tiga pilihan terapi bagi pasien gagal ginjal tahap akhir:
Pilihan | Cara kerja | Yang perlu dipahami |
|---|---|---|
Hemodialisis (HD) | Darah dibersihkan dengan mesin, biasanya 2–3 kali seminggu di rumah sakit | Menggantikan sebagian fungsi penyaringan, tetapi tidak seluruh fungsi ginjal |
Dialisis peritoneal (CAPD) | Cairan dialisis dimasukkan ke rongga perut dan diganti beberapa kali sehari di rumah | Lebih fleksibel, tetapi harus dikerjakan setiap hari |
Transplantasi ginjal | Ginjal donor yang sehat bekerja menggantikan ginjal yang gagal | Paling mendekati fungsi ginjal normal, tetapi butuh operasi dan obat seumur hidup |
Penelitian dan pedoman internasional seperti KDIGO menunjukkan bahwa, bagi pasien yang memenuhi syarat, transplantasi yang berhasil umumnya memberi harapan hidup lebih panjang dibanding tetap menjalani dialisis. Pasien juga biasanya merasa lebih bugar, lebih bebas makan dan minum, bisa kembali bekerja atau sekolah, dan tidak terikat jadwal cuci darah.
Transplantasi juga bisa dilakukan sebelum pasien sempat cuci darah. Ini disebut transplantasi preemptif, dan hasilnya cenderung lebih baik dibanding transplantasi yang dilakukan setelah bertahun-tahun dialisis.
Di Indonesia, program donor dari orang yang meninggal (donor jenazah) belum berjalan luas, sehingga sebagian besar transplantasi memakai donor hidup, biasanya pasangan, saudara kandung, orang tua, atau anak. Aturan mengenai donor, termasuk larangan jual beli organ, diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.
2. Siapa yang cocok, dan kapan sebaiknya mulai dirujuk?
Siapa yang bisa menjadi penerima?
Secara umum, transplantasi dipertimbangkan bagi pasien penyakit ginjal kronik stadium 4–5 atau yang sudah menjalani cuci darah, yang kondisi tubuhnya cukup kuat untuk menjalani operasi dan minum obat imunosupresan jangka panjang.
Usia saja bukan halangan. Pedoman KDIGO 2020 tentang evaluasi calon penerima transplantasi menyatakan bahwa usia lanjut tidak otomatis membuat seseorang tidak boleh ditransplantasi. Yang dinilai adalah kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Ada beberapa keadaan yang membuat transplantasi ditunda atau tidak dianjurkan, antara lain:
Infeksi aktif yang belum terkendali, termasuk tuberkulosis (TBC) yang belum selesai diobati
Kanker aktif, atau kanker yang baru selesai diobati (lama menunggu bergantung pada jenis kankernya)
Penyakit jantung atau paru berat yang membuat operasi terlalu berisiko
Harapan hidup yang sangat terbatas akibat penyakit lain
Kecanduan alkohol atau narkoba yang masih aktif
Gangguan jiwa berat yang belum terkendali, atau kesulitan besar untuk minum obat secara teratur
Sebagian keadaan di atas bisa diperbaiki terlebih dahulu. Misalnya, TBC diobati sampai tuntas, berat badan diturunkan, atau penyakit jantung ditangani, lalu pasien dievaluasi ulang.
Kapan sebaiknya mulai dirujuk?
Banyak pasien baru membicarakan transplantasi setelah bertahun-tahun cuci darah. Padahal, pedoman KDIGO 2020 menganjurkan:
Pasien penyakit ginjal kronik dengan eGFR di bawah 30 mL/menit/1,73 m² (stadium G4–G5) yang diperkirakan akan terus menurun sebaiknya mulai diperkenalkan dan dirujuk untuk evaluasi transplantasi.
Rujukan idealnya dilakukan setidaknya 6–12 bulan sebelum perkiraan pasien membutuhkan cuci darah.
Transplantasi preemptif dengan donor hidup dapat dilakukan bila eGFR di bawah 20 mL/menit/1,73 m² dan fungsi ginjal terbukti terus menurun dalam 6–12 bulan terakhir.
Belum tahu berapa eGFR Anda? Banyak hasil laboratorium hanya mencantumkan angka kreatinin. Hitung dengan Kalkulator eGFR nefrologi.com: cukup masukkan kreatinin, usia, dan jenis kelamin. Bila Anda bingung membaca hasil kreatinin, baca juga Kreatinin Tinggi: Artinya Apa?.
Tips: bila eGFR Anda sudah di bawah 30, tanyakan kepada dokter, "Apakah saya calon yang cocok untuk transplantasi, dan siapa saja di keluarga yang mungkin bisa menjadi donor?" Semakin awal dibicarakan, semakin banyak waktu untuk persiapan.
3. Tahap persiapan: pemeriksaan kecocokan dan evaluasi kesehatan
Persiapan transplantasi biasanya memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. Ada dua hal besar yang diperiksa: apakah ginjal donor cocok dengan penerima, dan apakah tubuh penerima siap menjalani operasi.
Pemeriksaan kecocokan donor dan penerima
Golongan darah (ABO). Golongan darah donor harus cocok (kompatibel) dengan penerima, tetapi tidak selalu harus sama persis. Contohnya, donor bergolongan darah O umumnya cocok untuk penerima golongan darah apa pun.
Pencocokan jaringan (HLA typing). HLA adalah "kartu identitas" sel tubuh. Semakin mirip HLA donor dan penerima, semakin kecil kemungkinan sistem kekebalan menyerang ginjal baru. Namun, HLA yang tidak sama persis tetap bisa ditransplantasi dengan obat yang tepat.
Antibodi anti-HLA dan uji silang (crossmatch). Darah penerima dicampur dengan sel donor di laboratorium untuk melihat apakah penerima sudah memiliki antibodi yang akan langsung menyerang ginjal donor. Antibodi seperti ini bisa terbentuk akibat transfusi darah, kehamilan, atau transplantasi sebelumnya. Hasil crossmatch yang positif biasanya berarti transplantasi dengan donor tersebut tidak dapat dilakukan, atau perlu persiapan khusus.
Bila tidak cocok dengan satu calon donor, tim dapat menilai calon donor lain di keluarga. Di beberapa pusat transplantasi tersedia juga pilihan transplantasi dengan golongan darah tidak cocok (ABO-inkompatibel) melalui terapi khusus sebelum operasi. Tanyakan kepada tim transplantasi Anda pilihan apa yang tersedia.
Calon donor sendiri menjalani rangkaian pemeriksaan terpisah untuk memastikan ia sehat dan tetap aman hidup dengan satu ginjal.
Evaluasi kesehatan penerima
Tujuannya memastikan operasi aman dan tidak ada masalah yang akan memburuk setelah obat imunosupresan dimulai. Pemeriksaannya biasanya meliputi:
Jantung dan pembuluh darah: EKG, ekokardiografi, dan bila perlu uji beban jantung, karena penyakit jantung adalah penyebab kematian tersering pada pasien ginjal.
Infeksi: hepatitis B, hepatitis C, HIV, sitomegalovirus (CMV), sifilis, serta skrining TBC. Di Indonesia, pemeriksaan TBC sangat penting.
Skrining kanker sesuai usia dan jenis kelamin, misalnya pap smear, mamografi, atau pemeriksaan usus besar.
Gigi dan mulut: gigi berlubang atau infeksi gusi perlu dibereskan sebelum transplantasi.
Saluran kemih: USG, dan bila perlu pemeriksaan kandung kemih.
Penilaian psikologis dan sosial: kesiapan mental, dukungan keluarga, serta kemampuan untuk minum obat dan kontrol rutin.
Vaksinasi yang perlu dilengkapi sebelum transplantasi, terutama vaksin hidup yang tidak boleh diberikan setelah transplantasi.
Selama masa persiapan, pasien tetap menjalani cuci darah (bila sudah dialisis) dan menjaga kondisi tubuh sebaik mungkin: tekanan darah terkendali, gula darah terkendali bagi penyandang diabetes, dan pola makan sesuai anjuran. Baca: Diet Gagal Ginjal per Stadium dan Hubungan Tekanan Darah dengan Ginjal.
Bila Anda menjalani CAPD, kecukupan dialisis juga tetap perlu dipantau sambil menunggu. Lihat: Kalkulator PET dan Adekuasi CAPD.
Biaya
Menurut PP 28/2024, donor dibebaskan dari biaya pelayanan kesehatan selama perawatan transplantasi. Biaya transplantasi ditanggung oleh pihak penerima, baik secara mandiri, melalui JKN, maupun asuransi lain sesuai ketentuan yang berlaku. Karena rincian penjaminan bisa berubah, tanyakan langsung ke rumah sakit dan BPJS Kesehatan sejak awal persiapan.
4. Hari operasi dan masa pemulihan
Apa yang terjadi saat operasi?
Pada transplantasi dengan donor hidup, operasi donor dan penerima biasanya dilakukan pada hari yang sama. Ginjal donor umumnya diambil dengan teknik laparoskopi (lubang kecil), sehingga pemulihan donor lebih cepat.
Pada penerima, ginjal baru tidak dipasang di tempat ginjal lama, melainkan di perut bagian bawah, di sisi kanan atau kiri. Pembuluh darah ginjal baru disambungkan ke pembuluh darah besar di panggul, dan saluran kencingnya (ureter) disambungkan ke kandung kemih. Ginjal lama umumnya tidak dibuang, kecuali ada alasan khusus seperti infeksi berulang atau ukuran ginjal yang sangat besar akibat kista.
Operasi penerima biasanya berlangsung sekitar 3–4 jam. Sering kali, ginjal baru langsung menghasilkan urin di meja operasi. Namun, pada sebagian pasien ginjal baru butuh waktu beberapa hari untuk mulai bekerja, sehingga pasien mungkin masih perlu cuci darah sementara. Ini tidak selalu berarti transplantasi gagal.
Masa pemulihan di rumah sakit
Pasien biasanya dirawat sekitar satu sampai dua minggu, bergantung pada kondisi dan kebijakan pusat transplantasi.
Di hari-hari awal, jumlah urin, kreatinin, elektrolit, dan kadar obat imunosupresan diperiksa sangat sering.
Pasien belajar mengenali obat-obatnya: nama, dosis, jam minum, dan efek sampingnya.
Selang kecil (stent) di saluran kencing biasanya dilepas beberapa minggu setelah operasi.
Setelah pulang
Bulan-bulan pertama adalah masa paling rawan. Kontrol biasanya sangat sering di awal, bisa beberapa kali seminggu, lalu berangsur menjadi lebih jarang. Hindari mengangkat beban berat dan aktivitas yang menekan perut selama beberapa minggu sesuai anjuran dokter bedah. Kebanyakan pasien bisa kembali ke aktivitas ringan dan pekerjaan kantor dalam beberapa bulan.
5. Obat imunosupresan: mengapa harus diminum seumur hidup
Sistem kekebalan tubuh dirancang untuk menyerang apa pun yang dianggap "asing", termasuk ginjal donor. Obat imunosupresan menekan sistem kekebalan agar ginjal baru tidak ditolak.
Obat yang umum dipakai
Pedoman KDIGO untuk perawatan penerima transplantasi menganjurkan kombinasi beberapa obat. Yang paling sering dipakai:
Golongan | Contoh | Hal yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|
Penghambat kalsineurin | Takrolimus (kadang siklosporin) | Kadar dalam darah harus dipantau rutin; dapat menyebabkan tangan gemetar, gula darah naik, tekanan darah naik |
Antimetabolit | Mikofenolat (MMF/mikofenolat natrium) | Dapat menyebabkan diare dan penurunan sel darah; berbahaya bagi janin |
Kortikosteroid | Metilprednisolon, prednison | Nafsu makan dan berat badan naik, gula darah naik, tulang keropos |
Di awal transplantasi, sebagian pasien juga mendapat obat "induksi" lewat infus untuk menekan sistem kekebalan lebih kuat pada minggu-minggu pertama. Selain itu, dokter biasanya memberikan obat pencegah infeksi selama beberapa bulan pertama, misalnya kotrimoksazol untuk mencegah pneumonia tertentu dan obat antivirus untuk mencegah infeksi CMV.
Aturan emas minum obat imunosupresan
Minum tepat waktu, setiap hari, di jam yang sama. Pasang alarm di ponsel.
Jangan pernah berhenti atau mengubah dosis sendiri, meskipun merasa sehat. Ketidakpatuhan minum obat adalah salah satu penyebab utama rejeksi dan kehilangan ginjal cangkok.
Bawa obat cadangan saat bepergian, dan jangan sampai stok habis.
Saat periksa kadar takrolimus, ikuti petunjuk tim, biasanya darah diambil sebelum minum dosis pagi.
Beri tahu setiap dokter yang Anda temui bahwa Anda penerima transplantasi. Banyak obat dapat menaikkan atau menurunkan kadar takrolimus, misalnya beberapa antibiotik, obat jamur, obat kejang, dan obat TBC (rifampisin).
Hindari jeruk bali dan grapefruit, serta jamu atau suplemen herbal yang tidak jelas kandungannya, karena dapat mengganggu kadar obat.
Hindari obat antinyeri golongan NSAID (ibuprofen, natrium diklofenak, asam mefenamat, meloksikam) kecuali atas izin dokter, karena dapat merusak ginjal cangkok.
6. Tanda bahaya rejeksi dan infeksi
Rejeksi (penolakan)
Rejeksi adalah serangan sistem kekebalan terhadap ginjal baru. Rejeksi paling sering terjadi dalam tahun pertama, tetapi bisa muncul kapan saja, terutama bila obat terlewat.
Yang perlu diingat: rejeksi sering tidak menimbulkan keluhan sama sekali. Tanda pertamanya biasanya hanya kreatinin yang naik pada pemeriksaan darah rutin. Itulah sebabnya kontrol lab rutin tidak boleh dilewatkan.
Segera hubungi tim transplantasi bila Anda mengalami:
Kreatinin naik dari nilai biasanya, sekecil apa pun
Jumlah urin berkurang
Bengkak di kaki atau wajah, atau berat badan naik cepat
Tekanan darah naik dari biasanya
Nyeri atau rasa penuh di daerah ginjal cangkok (perut bawah)
Demam
Bila ditemukan cepat, banyak episode rejeksi dapat diatasi dengan obat. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan tambahan, termasuk biopsi ginjal cangkok, untuk memastikan penyebabnya.
Infeksi
Karena sistem kekebalan ditekan, penerima transplantasi lebih mudah terkena infeksi, termasuk infeksi yang jarang menyerang orang sehat. Infeksi yang sering dijumpai antara lain infeksi saluran kemih, infeksi paru, CMV, virus BK (yang dapat merusak ginjal cangkok), dan TBC.
Segera periksa bila Anda mengalami demam, batuk lama atau sesak, nyeri saat berkemih, diare berat, luka yang tidak kunjung sembuh, atau ruam melepuh (misalnya herpes zoster). Jangan mengobati sendiri dengan antibiotik yang dibeli bebas.
7. Hidup setelah transplantasi
Bagi banyak penerima, transplantasi membuka kembali kehidupan yang sempat terhenti oleh gagal ginjal. Berikut hal-hal yang sering ditanyakan.
Makan dan minum
Pembatasan makan biasanya lebih longgar dibanding saat cuci darah, terutama soal kalium, fosfat, dan cairan, selama ginjal cangkok bekerja baik.
Minum cukup sesuai anjuran tim, biasanya lebih banyak dibanding saat dialisis.
Tetap batasi garam untuk menjaga tekanan darah. Baca: Garam Tersembunyi.
Waspadai berat badan naik akibat steroid dan nafsu makan yang membaik.
Keamanan makanan penting: hindari daging, telur, dan seafood yang mentah atau setengah matang, susu yang tidak dipasteurisasi, serta cuci bersih buah dan sayuran.
Penyakit yang perlu diwaspadai jangka panjang
Diabetes setelah transplantasi. Takrolimus dan steroid dapat memicu diabetes baru. Gula darah diperiksa rutin.
Tekanan darah tinggi dan kolesterol. Keduanya perlu dikendalikan untuk melindungi jantung dan ginjal cangkok. Baca: Jenis-Jenis Obat Hipertensi.
Kanker kulit dan kanker lain. Risikonya meningkat akibat imunosupresi. Gunakan pelindung matahari, dan jalani skrining kanker sesuai anjuran.
Tulang keropos, terutama akibat steroid.
Anemia, yang kadang masih muncul. Baca: Anemia dan Ginjal.
Bekerja, sekolah, dan olahraga
Sebagian besar penerima dapat kembali bekerja atau sekolah setelah masa pemulihan. Olahraga teratur seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang (setelah luka operasi sembuh) sangat dianjurkan. Hindari olahraga kontak keras yang berisiko benturan langsung pada perut bagian bawah tempat ginjal cangkok berada.
Rokok
Berhenti merokok sepenuhnya. Rokok mempercepat kerusakan pembuluh darah ginjal cangkok, meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker. Baca: Bahaya Rokok bagi Ginjal.
Vaksinasi
Vaksin yang tidak hidup, seperti vaksin influenza, pneumonia, dan hepatitis B, umumnya dianjurkan. Vaksin hidup (misalnya MMR, cacar air, atau demam kuning) tidak boleh diberikan setelah transplantasi. Selalu tanyakan kepada tim sebelum vaksinasi.
Kehamilan dan rencana punya anak
Kesuburan sering membaik setelah transplantasi, sehingga kehamilan bisa terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Perempuan penerima transplantasi perlu memakai kontrasepsi yang efektif sejak awal.
Kehamilan dimungkinkan, tetapi harus direncanakan bersama tim. Pedoman KDIGO menyarankan menunggu sekitar satu tahun setelah transplantasi dengan fungsi ginjal stabil. Mikofenolat harus diganti dengan obat lain sebelum hamil karena dapat menyebabkan cacat janin. Kehamilan pada penerima transplantasi tergolong berisiko tinggi dan perlu dipantau bersama dokter kandungan.
Kontrol seumur hidup
Seiring waktu, jadwal kontrol menjadi lebih jarang, tetapi tidak pernah berhenti. Pada setiap kontrol, dokter biasanya memeriksa kreatinin dan eGFR, kadar obat, urin, gula darah, tekanan darah, serta efek samping obat.
8. Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa lama ginjal cangkok bisa bertahan?
Bervariasi. Ginjal dari donor hidup umumnya bertahan lebih lama dibanding dari donor jenazah, dan banyak yang berfungsi baik lebih dari 15–20 tahun. Faktor terpenting yang bisa Anda kendalikan adalah minum obat dengan disiplin, kontrol rutin, serta menjaga tekanan darah, gula darah, dan berat badan.
Apakah setelah transplantasi saya tidak perlu cuci darah lagi?
Selama ginjal cangkok berfungsi baik, Anda tidak memerlukan cuci darah. Bila suatu saat ginjal cangkok gagal, pasien dapat kembali menjalani dialisis dan bisa dievaluasi untuk transplantasi berikutnya.
Apakah ginjal lama saya dibuang?
Umumnya tidak. Ginjal baru ditempatkan di perut bagian bawah, dan ginjal lama dibiarkan di tempatnya kecuali ada alasan medis tertentu.
Apakah usia lanjut tidak boleh transplantasi?
Usia saja bukan halangan. Yang menentukan adalah kondisi kesehatan secara keseluruhan, terutama jantung, serta kemampuan menjalani operasi dan pengobatan jangka panjang.
Siapa yang boleh menjadi donor?
Di Indonesia, donor umumnya anggota keluarga atau orang dekat yang menyumbangkan ginjalnya secara sukarela tanpa imbalan. Calon donor harus sehat dan lolos rangkaian pemeriksaan untuk memastikan ia tetap aman hidup dengan satu ginjal. Jual beli organ dilarang dan diancam pidana.
Apakah penderita diabetes bisa menjalani transplantasi?
Bisa. Diabetes adalah salah satu penyebab gagal ginjal tersering, dan banyak penyandang diabetes berhasil menjalani transplantasi. Pemeriksaan jantung dan pembuluh darah biasanya dilakukan lebih teliti, dan gula darah perlu dikendalikan dengan baik sebelum dan sesudah operasi.
Apakah saya bisa hidup normal setelah transplantasi?
Banyak penerima kembali bekerja, berolahraga, bepergian, dan berkeluarga. Bedanya, Anda harus minum obat setiap hari, kontrol teratur, dan lebih waspada terhadap infeksi.
Penutup
Transplantasi ginjal adalah pilihan terapi terbaik bagi banyak pasien gagal ginjal tahap akhir, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh persiapan yang matang dan kedisiplinan seumur hidup setelahnya. Langkah pertama yang paling berguna adalah membicarakannya sejak dini, saat fungsi ginjal mulai menurun, bukan setelah bertahun-tahun cuci darah.
Ingin tahu apakah Anda sudah waktunya membicarakan transplantasi? Cek fungsi ginjal Anda dengan Kalkulator eGFR, lalu bawa hasilnya saat berkonsultasi dengan dokter spesialis ginjal.
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan mengenai transplantasi, pemilihan donor, dan pengobatan harus dibuat bersama tim transplantasi yang memeriksa Anda.
Referensi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan


Komentar